Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kisah Sr. Klara Duha, Biarawati Nias Pejuang Hak Anak Berkebutuhan Khusus

        Kisah Sr. Klara Duha, Biarawati Nias Pejuang Hak Anak Berkebutuhan Khusus Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Keterbatasan akses pendidikan dan kuatnya stigma sosial tidak menyurutkan langkah Sr. Klara Duha. Biarawati asal Nias ini mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) agar mendapatkan hak pendidikan, kasih sayang, dan masa depan yang setara.

        Menghadapi realitas di lapangan berupa minimnya fasilitas penunjang, tekanan ekonomi keluarga, hingga pengucilan oleh masyarakat, Sr. Klara tergerak untuk mendirikan Yayasan Karya Berkat Faomasi. Yayasan ini hadir sebagai tempat bernaung dan ruang aman bagi anak-anak istimewa tersebut dari diskriminasi.

        "Setiap anak memiliki potensi. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan orang-orang yang percaya pada kemampuan mereka. Sudah seharusnya setiap orang melayani Tuhan dalam diri sesama yang menderita," ujar Sr. Klara dalam keterangannya.

        Dalam menjalankan misi kemanusiaannya, Sr. Klara berfokus pada tiga pilar utama: pengasahan kemampuan, pembentukan kemandirian, dan pemulihan rasa percaya diri. Para ABK diajarkan keterampilan hidup praktis agar mampu mandiri, berinteraksi sosial dengan sehat, dan berani menatap masa depan.

        Melalui pendekatan berbasis kasih dan penerimaan penuh, pelayanan ini membuahkan hasil. Anak-anak yang dahulunya kerap dipandang sebelah mata kini mulai menunjukkan keunikan bakatnya.

        Dampak positif ini turut dirasakan langsung oleh pihak keluarga. Dukungan konsisten dari Sr. Klara dan Yayasan Karya Berkat Faomasi membuat para orang tua tidak lagi merasa berjuang sendirian dalam membesarkan anak dengan kebutuhan khusus.

        Lebih dari sekadar dedikasi pribadi, langkah nyata Sr. Klara menjadi ajakan terbuka bagi masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa ABK bukanlah objek belas kasihan, melainkan individu berdaulat yang memiliki impian dan hak mutlak.

        Perjuangan mewujudkan inklusi ini dinilai membutuhkan sinergi yang kokoh antara keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah, dan organisasi kemanusiaan agar api harapan bagi anak-anak berkebutuhan khusus tetap menyala.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: