Utang Jatuh Tempo Rp43,56 Triliun, Penerbitan Surat Utang Korporasi Tembus Rp180 Triliun pada 2026
Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp175 triliun hingga Rp180 triliun sepanjang 2026. Proyeksi tersebut didukung kebutuhan pembiayaan kembali utang (refinancing) yang mencapai Rp43,56 triliun pada kuartal IV 2026.
Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto mengatakan, penerbitan surat utang korporasi hingga akhir September 2026 telah mencapai sekitar Rp139,65 triliun. Dengan kebutuhan pendanaan pada sisa tahun ini, nilai penerbitan diperkirakan masih meningkat hingga akhir tahun.
“Kalau kita lihat secara outlook, kami melihat di tahun 2026 ini hingga akhir tahun, kemungkinan penerbitannya akan ada di mid-upper projection kami, seiring dengan kebutuhan refinancing di kuartal keempat ini akan cukup tinggi, yaitu di Rp43,56 triliun,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers PEFINDO 2026 secara daring, Rabu (14/10/2026).
Menurut Suhindarto, kebutuhan refinancing menjadi salah satu faktor yang menopang proyeksi penerbitan surat utang korporasi hingga akhir tahun.
“Dengan kondisi penerbitan yang sudah mencapai sekitar Rp140 triliun, maka ada potensi untuk penerbitan di sisa tahun ini akan bertambah hingga akhirnya mencapai sekitar Rp175-180 triliun,” katanya.
Proyeksi tersebut berada di kisaran atas dari rentang proyeksi penerbitan yang telah disampaikan Pefindo sejak awal tahun.
Suhindarto menilai kondisi pasar surat utang korporasi sepanjang 2026 masih relatif solid meskipun biaya pendanaan mengalami kenaikan.
“Sehingga memang secara umum kalau bisa disampaikan kondisi pasar surat utang korporasi di tahun 2026 ini masih relatif solid, despite of kondisi kenaikan biaya dana yang terjadi di market,” tuturnya.
Meski demikian, pasar surat utang korporasi masih menghadapi sejumlah risiko, terutama terkait kenaikan biaya pendanaan, kemampuan pasar menyerap pasokan surat utang, serta kebutuhan pembiayaan kembali utang yang jatuh tempo.
Baca Juga: Utang Emiten Bakrie (VIVA) Menumpuk Rp1,72 Triliun, Pemegang Saham Lama Terancam Terdilusi 72,35%
Baca Juga: Capai Rp494,3 Triliun, Utang RI Dinilai Berpotensi Makin Membengkak
Pefindo juga menyoroti kenaikan imbal hasil (yield) global, terutama obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Kenaikan imbal hasil tersebut dinilai berisiko mendorong biaya pendanaan di pasar surat utang.
“Kenaikan yield global ini relatif cukup cepat, mungkin didorong oleh kenaikan yield US Treasury,” ujar Suhindarto.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: