Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan setelah mengonfirmasi pembalikan arah atau rebound. Namun, investor masih perlu mewaspadai ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), ketegangan geopolitik, serta perubahan kebijakan indeks di dalam negeri.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menyampaikan bahwa secara teknikal IHSG telah mengonfirmasi pembalikan arah setelah membentuk pola bullish pin bar yang bertindak sebagai wave (b). Kondisi ini mengindikasikan pembeli mulai kembali masuk ke pasar.
Indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) juga menunjukkan sinyal positif, meskipun volume transaksi mengalami penurunan.
"Level support IHSG di 5.167 dan 5.040, sedangkan resistance berada di 5.373 dan 5.499," kata dia dalam riset hariannya, Kamis (29/10/2026).
Di tengah pergerakan pasar, investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp257,74 miliar. Namun, secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, arus dana asing masih mencatatkan jual bersih Rp124,93 triliun. Kinerja IHSG sejak awal tahun juga tercatat melemah 38,91%.
The Fed dan Geopolitik Jadi Perhatian
Dari eksternal, pasar merespons keputusan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%, sesuai ekspektasi. Meski demikian, keputusan tersebut belum memberikan kepastian mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Tekanan inflasi AS yang belum kembali ke target 2% membuat peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember tetap terbuka. Berdasarkan data yang dikutip dalam riset, probabilitas kenaikan 25 basis poin mencapai 83,26%.
Dua anggota komite The Fed bahkan menolak keputusan untuk menahan suku bunga dan memilih kenaikan 25 basis poin. Perbedaan pendapat tersebut menjadi sinyal bahwa jeda kali ini belum tentu menandai berakhirnya siklus pengetatan moneter.
Tanpa publikasi proyeksi ekonomi atau dot plot terbaru pada pertemuan tersebut, investor akan mencermati pernyataan pimpinan The Fed, data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal III, serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) untuk memperkirakan arah kebijakan selanjutnya.
Risiko lain datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas kilang minyak di Arab Saudi memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah Brent pun naik 1,04% menjadi USD110,55 per barel.
Laporan Keuangan dan Kebijakan BEI Jadi Katalis
Dari sisi korporasi, investor global menantikan laporan keuangan Amazon pada Kamis (29/10/2026). Kinerja Amazon Web Services (AWS) menjadi perhatian utama untuk mengukur pertumbuhan bisnis komputasi awan perusahaan di tengah persaingan kecerdasan buatan dengan Microsoft Azure dan Google Cloud.
Di dalam negeri, investor mencermati laporan keuangan perbankan. Bank Syariah Indonesia (BRIS) dijadwalkan merilis kinerja pada Kamis (29/10/2026), sedangkan BBRI, BBTN, dan BDMN diperkirakan menyusul pada Jumat (30/10/2026). Jadwal tersebut masih berupa estimasi dan dapat berubah.
Pertumbuhan laba yang berkualitas serta pengelolaan risiko yang baik berpotensi menjadi katalis positif bagi saham perbankan terkait.
Pelaku pasar juga memperhatikan rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kualitas dan transparansi indeks, tetapi dalam jangka pendek berpotensi memicu penyesuaian portofolio dan perubahan persepsi investor terhadap saham terdampak.
Selain itu, komunikasi antara otoritas Indonesia dan MSCI masih menjadi perhatian. Kepastian terkait aksesibilitas pasar, transparansi kepemilikan saham, dan pelaksanaan reformasi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor asing.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI pada Rabu (28/10/2026) juga menyetujui tiga agenda utama, yakni perubahan Anggaran Dasar untuk mendukung demutualisasi bursa, alokasi laba ditahan sebesar Rp2 triliun dan pembagian dividen khusus Rp1,564 triliun, serta Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) tahun buku 2027.
Baca Juga: Sempat Tertekan, IHSG Berbalik Menguat ke 5.282 di Akhir Perdagangan
Baca Juga: IHSG Ambruk 1,42% di Awal Perdagangan, Tekanan Jual Langsung Menghantam!
Bagi IHSG, keputusan tersebut lebih berpotensi menjadi katalis positif jangka menengah hingga panjang ketimbang mendorong kenaikan indeks secara langsung.
"Persiapan demutualisasi dan penguatan infrastruktur pasar modal dapat meningkatkan kepercayaan investor jika diterapkan secara kredibel," ungkap dia.
Namun, arah IHSG dalam jangka pendek tetap bergantung pada arus dana asing, stabilitas rupiah, kondisi ekonomi domestik, serta perkembangan kebijakan indeks global seperti MSCI. Dampak positif reformasi BEI juga akan bergantung pada peningkatan transparansi, kualitas likuiditas, dan perlindungan investor.
Menghadapi kondisi pasar yang masih diwarnai ketidakpastian, Nafan menyarankan investor untuk selektif memilih saham dengan fundamental solid dan valuasi yang dinilai masih murah (undervalued).
"Investor juga dapat mencermati saham yang menunjukkan indikasi pembalikan arah, dengan tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin," tutup dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: