Netanyahu Menang Pemilu Israel tapi Gagal Rebut Mayoritas Kursi Parlemen, Posisinya di Ujung Tanduk?
Kredit Foto: Istimewa
Koalisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu unggul dalam pemilu legislatif yang digelar 27 Oktober 2026. Namun, hasil akhir resmi menunjukkan kubu sayap kanan tersebut gagal memperoleh mayoritas kursi parlemen untuk membentuk pemerintahan.
Komite Pemilu Pusat Israel (CEC) mengumumkan hasil final pada Jumat (30/10) pagi waktu setempat setelah menyelesaikan pemeriksaan terhadap kemungkinan kesalahan penghitungan dan berbagai aduan. Berdasarkan hasil tersebut, koalisi Netanyahu memperoleh 53 dari total 120 kursi Knesset, sedangkan kubu oposisi mengamankan 48 kursi.
Partai Likud yang dipimpin Netanyahu menjadi partai dengan perolehan kursi terbesar, yakni 27 kursi. Sementara itu, Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot memperoleh 21 kursi dan menjadi kekuatan utama di kubu oposisi.
Tingkat partisipasi pemilih tercatat mencapai 77,9 persen dari sekitar 7,3 juta warga yang memenuhi syarat menggunakan hak pilih. CEC mencatat sebanyak 5.716.655 suara telah dihitung, menjadikan tingkat partisipasi tersebut sebagai yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Secara keseluruhan, perolehan kursi partai-partai di Knesset terdiri atas Likud 27 kursi, Yashar 21 kursi, B'Yachad 12 kursi, Joint List 11 kursi, Partai Demokrat 8 kursi, Ra'am 8 kursi, Yisrael Beytenu 7 kursi, United Torah Judaism 7 kursi, Otzma Yehudit 7 kursi, Shas 6 kursi, dan Religious Zionism 6 kursi.
Koalisi Netanyahu terdiri atas Likud, Shas, United Torah Judaism, Otzma Yehudit, dan Religious Zionism. Sementara kubu oposisi mencakup Yashar, B'Yachad, Partai Demokrat, serta Yisrael Beytenu. Meski unggul dalam perolehan kursi, koalisi pemerintah masih kekurangan delapan kursi dari ambang batas 61 kursi untuk menguasai mayoritas parlemen.
Perhatian juga tertuju pada peningkatan perolehan partai-partai Arab Israel. Joint List dan Ra'am secara bersama-sama meraih 19 kursi, hampir dua kali lipat dari total 10 kursi yang mereka miliki saat ini. Hasil tersebut menjadi pencapaian tertinggi partai-partai Arab Israel sepanjang sejarah pemilu negara itu.
Perolehan tersebut berpotensi membuat kedua partai Arab menjadi faktor penting dalam negosiasi pembentukan pemerintahan. Namun, kubu oposisi belum membuka kemungkinan untuk menjalin koalisi dengan Joint List dan Ra'am, sehingga peluang membentuk mayoritas bersama masih menghadapi kendala politik.
Di tengah situasi tersebut, muncul tuduhan dari kubu Netanyahu bahwa partai-partai Arab Israel menerima dana Qatar untuk "membeli suara". Tuduhan yang disampaikan pada Kamis (29/10) malam itu belum terbukti dan telah dibantah oleh Joint List, Ra'am, serta otoritas Qatar. Eisenkot justru menuduh Netanyahu berupaya "mendelegitimasi" hasil pemilu.
Baca Juga: Pemilu Israel Memanas! Netanyahu Tuduh Partai Arab Lakukan Kecurangan Jual Beli Suara
CEC kemudian menepis klaim mengenai kecurangan pemilu tanpa secara langsung menyinggung tuduhan terhadap partai-partai Arab Israel. "Laporan yang beredar sepanjang hari ini sama sekali tidak berdasar," tegas Pelaksana Tugas Direktur CEC, Dean Livne.
Hasil akhir pemilu dijadwalkan diserahkan kepada Presiden Isaac Herzog pada Rabu (4/11). Setelah menerima hasil tersebut, Herzog akan berkonsultasi dengan para pemimpin partai sebelum menunjuk salah satu tokoh untuk membentuk pemerintahan. Jika negosiasi gagal menghasilkan pemerintahan baru, Israel berpotensi kembali menggelar pemilu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: