Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Penjualan Bijih Nikel PT Vale Melonjak 387%, Ini Pembeli dan Jalur Pasoknya

        Penjualan Bijih Nikel PT Vale Melonjak 387%, Ini Pembeli dan Jalur Pasoknya Kredit Foto: Vale Indonesia
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan pendapatan dari penjualan bijih nikel sebesar US$211,99 juta sepanjang Januari-September 2026. Nilai tersebut melonjak 387,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$43,49 juta. Peningkatan ini ditopang oleh aktivitas penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa yang mencapai total 4,27 juta wet metric tons (wmt).

        Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 September 2026, pendapatan tersebut berasal dari transaksi penjualan kepada pihak ketiga sebesar US$187,23 juta dan pihak berelasi sebesar US$24,76 juta. Seluruh pendapatan dari penjualan bijih nikel tersebut tercatat sebagai penjualan domestik.

        Dalam catatan atas laporan keuangan interim tersebut, PT Vale menyebut PT Kawasan Industri Antam Timur (PT KIAT) sebagai pihak berelasi yang melakukan transaksi pembelian bijih nikel senilai US$24,76 juta. PT KIAT merupakan entitas afiliasi yang memiliki hubungan melalui pemegang saham utama yang sama, yakni MIND ID.

        Sementara itu, pendapatan dari penjualan bijih nikel kepada pihak ketiga tercatat mencapai US$187,23 juta. Namun, PT Vale tidak merinci nama masing-masing pelanggan pihak ketiga dalam catatan laporan keuangan tersebut.

        Dari sisi volume, PT Vale mencatatkan total penjualan bijih nikel sekitar 4,27 juta wmt dari Blok Bahodopi dan Pomalaa selama sembilan bulan pertama 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 377% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 896.264 wmt.

        Blok Bahodopi menyumbang penjualan sebesar 2,38 juta wmt hingga September 2026. Volume tersebut meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 617.519 wmt.

        Sementara itu, Blok Pomalaa mencatatkan penjualan sebesar 1,90 juta wmt. Jumlah tersebut melonjak dibandingkan 278.745 wmt pada Januari-September 2025.

        Masuk Rantai Pasok Industri HPAL

        Selain mengungkap nilai penjualan, dokumen perusahaan juga menjelaskan jalur pemanfaatan bijih nikel dari kedua wilayah operasional tersebut. PT Vale memasarkan bijih berdasarkan jenis mineralnya, yakni limonit dan saprolit, untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan nikel.

        Dalam laporan tahunan perusahaan, bijih limonit dari Bahodopi diarahkan ke fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) di Sambalagi, Morowali, Sulawesi Tengah. Fasilitas tersebut dikembangkan bersama mitra GEM. Sementara itu, bijih saprolit dari Bahodopi dipasarkan kepada GEM dan pembeli di pasar domestik.

        Untuk wilayah Pomalaa, PT Vale mengarahkan bijih limonit melalui fasilitas Feed Preparation Plant (FPP) menuju fasilitas HPAL PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI) yang dikembangkan bersama Huayou. Adapun bijih saprolit dari wilayah tersebut dipasarkan ke pasar domestik.

        Jalur pemasaran tersebut memperlihatkan keterkaitan kegiatan pertambangan PT Vale dengan rantai pasok industri pengolahan nikel di dalam negeri. Bijih limonit menjadi salah satu bahan baku fasilitas HPAL, sedangkan bijih saprolit memasok kebutuhan pasar domestik dan industri pengolahan terkait.

        Kontribusi Bijih Nikel terhadap Pendapatan Meningkat

        Peningkatan penjualan bijih nikel turut mengubah komposisi pendapatan PT Vale. Berdasarkan laporan keuangan interim, kontribusi penjualan bijih nikel terhadap total pendapatan perusahaan meningkat menjadi sekitar 23,7% pada sembilan bulan pertama 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, kontribusinya baru sekitar 6,2%.

        Sebaliknya, pendapatan dari penjualan nikel matte tercatat sebesar US$684,08 juta, meningkat sekitar 3,4% dibandingkan US$661,90 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbedaan pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa penjualan bijih nikel menjadi salah satu sumber pertumbuhan pendapatan yang semakin penting bagi perusahaan.

        Dalam catatan transaksi pihak berelasi, PT Vale menyebut Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co. Ltd. (SMM) sebagai pembeli nikel matte melalui kontrak penjualan jangka panjang atau long-term offtake. Pendapatan dari penjualan kepada VCL mencapai US$546,26 juta, sedangkan penjualan kepada SMM mencapai US$137,82 juta sepanjang Januari-September 2026.

        VCL merupakan pihak berelasi yang berdomisili di Kanada, sedangkan SMM berdomisili di Jepang. Kedua perusahaan tersebut juga tercatat sebagai pemegang saham PT Vale.

        Dengan demikian, PT Vale menjalankan dua jalur pemasaran utama untuk produk nikelnya. Perusahaan menjual bijih nikel ke pasar domestik, sementara perusahaan memasarkan nikel matte melalui kontrak jangka panjang dengan mitra internasional.

        Di sisi produksi, PT Vale mencatatkan produksi nikel matte sebesar 48.114 ton sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Jumlah tersebut turun 12,5% dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 54.975 ton.

        Meski demikian, produksi nikel matte mulai menunjukkan pemulihan pada kuartal III 2026. PT Vale memproduksi 18.341 ton pada periode tersebut, meningkat dibandingkan 16.153 ton pada kuartal II 2026. Perusahaan menyebut peningkatan ketersediaan peralatan dan stabilitas operasi pabrik mendukung kenaikan produksi setelah pelaksanaan pemeliharaan besar pada awal tahun.

        Baca Juga: Laba PT Vale Melonjak 180%, Produksi Nikel Matte Justru Turun

        Baca Juga: DPR Sentil Vale dan Perusahaan Tambang, CSR Dinilai Tak Sinkron dengan Kebutuhan Daerah

        PT Vale juga melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi untuk memperkuat rantai bisnis nikelnya. Salah satu perkembangan yang dicapai perusahaan adalah mechanical completion pertama untuk Line 1 dan Line 2 proyek HPAL Pomalaa.

        Peningkatan penjualan bijih nikel dari Bahodopi dan Pomalaa menunjukkan semakin besarnya kontribusi kedua wilayah tersebut terhadap pendapatan PT Vale. Perkembangan ini sekaligus memperluas sumber pertumbuhan perusahaan di luar penjualan nikel matte.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: