Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mengembangkan Pasar REPO Tak Seperti Membalikkan Telapak Tangan

Mengembangkan Pasar REPO Tak Seperti Membalikkan Telapak Tangan Kredit Foto: Fajar Sulaiman
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menilai pengembangan pasar Repurchase Agreements (REPO) tak semudah membalikkan telapak tangan. Padahal pengembangan pasar ini menjadi krusial bagi transmisi kebijakan moneter, dan penting untuk mengurangi hambatan dalam aliran likuiditas antar perbankan.

"Awareness mengenai hal ini belum berkembang di pasar kita. Sebagai contoh ada bank yang belum bertransaksi karena terkendala ijin dari top management. Oleh karena itu, harus dibangun awareness di semua level," ujar Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsyah di Jakarta, Kamis (10/11/2016).

Menurut Nanang, guna mengembangkan pasar REPO, BI terus membangun pondasi pasar REPO yang dimulai sejak 2015 hingga 2017. Pada fase itu BI telah memiliki payung melalui peraturan BI terkait pasar uang dan akan terus mengeksplorasi peraturan-peraturan terkait lainnya.

"BI akan terus membangun pondasi pengembangan pasar dengan sumber pertumbuhan utama berasal dari ekspansi jumlah bank peserta. Dari sisi BI, yang menjadi misi adalah bagaimana membangun pasar keuangan yang efektif sekaligus membangun ekonomi," ungkapnya.

Oleh karenanya, bank sentral akan selalu memfasilitasi bank manapun dalam kerangka pengembangan pasar REPO. Karena BI berkepentingan untuk menggeser transaksi dari unsecured menjadi secured, sesuai best practices. Selain itu, kata Nanang, BI juga terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi pelaku pasar.

"Kita punya 116 bank, yang sangat segmented. Tidak semua bank memiliki kompetensi yang sama," imbuhnya.

Sampai dengan saat ini, sudah ada 73 bank yang signing GMRA (Global Master Repo Agreement) namun hanya 39 bank yang sudah melakukan transaksi. Bank asing yang sudah signing GMRA sebanyak 10 bank, dan 2 bank sudah melakukan transaksi. Ditambah satu bank asing lagi, HSBC.

"Volume transaksi Repo saat ini Rp1 triliun on average, tapi pernah mencapai Rp4 Triliun, jadi memang sangat tergantung kondisi likuiditas pasar. Outstanding Repo saat ini Rp9,9 Triliun, meningkat cukup signifikan dari Rp4,6 triliun di bulan Januari 2016," tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Vicky Fadil

Bagikan Artikel: