Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

China Jadi 'Biang Kerok' Trump Ogah Lanjutkan Perjanjian Senjata Nuklir Rusia-AS

China Jadi 'Biang Kerok' Trump Ogah Lanjutkan Perjanjian Senjata Nuklir Rusia-AS Kredit Foto: AP Photo/Andy Wong
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perjanjian New Start berakhi dan kini dunia dibayangi ancaman pengembangan senjata nuklir tanpa batas dari Rusia dan Amerika Serikat (AS). Namun, beberapa pihak khawatir akan adanya pemain baru yang luput dari perjanjian itu, ia adalah China.

Dikutip dari Reuters, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tidak memberikan tanggapan resmi terkait dengan berakhirnya perjanjian dari New Start. Namun dirinya pernah menyatakan ingin adanya kesepakatan nuklir yang lebih baik dengan mengikutsertakan China.

Baca Juga: Nuklirnya Tak Lagi Dibatasi, Rusia Tak Akan Lagi Menahan Diri Saat Hadapi Ancaman Trump

China di sisi lain menyayangkan berakhirnya perjanjian dari New Start. Namun Beijing menolak ajakan ikut dalam perjanjian dengan alasan jumlah hulu ledak nuklirnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan Rusia dan Amerika Serikat. Meski demikian, beberapa pihak meragukan hal tersebut, salah satunya adalah Trump.

China sendiri diperkirakan memiliki sekitar enam ratus hulu ledak, dibandingkan sekitar empat ribu hulu ledak masing-masing milik Rusia dan AS.

Sementara Rusia menyatakan bahwa pihaknya ikut turut menyayangkan berakhirnya perjanjian dari New Start. Meski demikian, pihaknya enegaskan akan tetap bertindak secara bertanggung jawab meski pembatasan atas pengerahan senjata nuklirnya telah berakhir.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya bergantung pada bagaimana peristiwa berkembang,” kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Para pakar keamanan menilai berakhirnya perjanjian tersebut akan mempersulit dua kekuatan nuklir terbesar dunia untuk membaca niat satu sama lain secara akurat, sehingga meningkatkan risiko salah perhitungan.

Sebagian pihak juga khawatir hal ini dapat memicu perlombaan senjata nuklir baru, di tengah tak adanya pengawasan terhadap China. Beijing sendiri diketahui tengah memperluas kapasitas nuklirnya.

Adapun Traktat New Start ditandatangani pada 2010. Ia membatasi ukuran persenjataan nuklir strategis Rusia dan Amerika Serikat. Namun, perjanjian tersebut akan segera berakhir tanpa adanya perundingan antara kedua negara mengenai kerangka pengganti.

Baca Juga: PBB Panik Lihat Rusia dan Amerika Serikat (AS) Kini Bebas Kembangkan Senjata Nuklir

Perjanjian New Start sendiri adalah perjanjian yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan masing-masing negara hingga 1.550. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: