Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bos BI Tegaskan Outlook Negatif Moody’s Tak Cerminkan Pelemahan Ekonomi RI

Bos BI Tegaskan Outlook Negatif Moody’s Tak Cerminkan Pelemahan Ekonomi RI Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan penurunan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s Investors Service tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian nasional, di tengah tetap solidnya kinerja ekonomi domestik sepanjang 2025.

Pernyataan tersebut disampaikan Perry menanggapi keputusan Moody’s pada 5 Februari 2026 yang mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia di level Baa2, namun menyesuaikan outlook menjadi negatif. Moody’s menilai afirmasi peringkat tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap kuat, sementara revisi outlookdipengaruhi meningkatnya risiko dari menurunnya kepastian kebijakan.

“Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid,” ujar Perry dalam keterangan resmi, Kamis (5/2/2026).

Baca Juga: Moody’s Ubah Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif

Perry menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%. Inflasi tetap terjaga pada 2,92%, berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.

Ia menambahkan, stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui komitmen kebijakan Bank Indonesia, sementara stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang tinggi, serta risiko kredit yang rendah.

“Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang tetap terjaga, ditopang infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat, turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” lanjut Perry.

Dalam laporannya, Moody’s memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah. Lembaga pemeringkat tersebut juga memperkirakan defisit fiskal akan tetap berada di bawah 3% PDB, sementara kebijakan moneter dinilai terus mendukung stabilitas inflasi.

Baca Juga: Meski Outlook Negatif, Moody’s Pertahankan Rating Indonesia di Level Investment Grade

Moody’s menilai rasio utang pemerintah terhadap PDB akan tetap rendah dibandingkan negara dengan peringkat setara. Namun, Moody’s menyoroti tantangan Indonesia dalam memperkuat basis penerimaan negara guna menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Dalam hal ini, Moody’s mengapresiasi upaya pemerintah meningkatkan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan.

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap solid dengan tren meningkat. Pertumbuhan ekonomi pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 4,9–5,7%, didorong peningkatan permintaan domestik seiring kebijakan pemerintah dan berlanjutnya dampak positif bauran kebijakan Bank Indonesia.

Pada 2027, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meningkat ke kisaran 5,1–5,9%, dengan inflasi yang tetap terkendali.

Baca Juga: Moody’s Ungkap Ketidakjelasan Danantara Berisiko Bebani Negara

Dari sisi eksternal, ketahanan perekonomian Indonesia dinilai tetap kuat. Neraca perdagangan pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar US$2,51 miliar, ditopang ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam dan manufaktur. Cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Bank Indonesia memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia pada 2026 tetap terjaga dengan defisit transaksi berjalan yang rendah, di kisaran 0,9–0,1% PDB. Nilai tukar rupiah diproyeksikan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, prospek pertumbuhan ekonomi yang baik, serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah meningkatnya ketidakpastian global, dengan bersinergi bersama KSSK dan pemerintah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: