Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kisah Perjuangan CEO Bukalapak Meraih Kesuksesan

Kisah Perjuangan CEO Bukalapak Meraih Kesuksesan Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesuksesan yang diraih pendiri sekaligus CEO Bukalapak, Achmad Zaky tidak datang dengan sendirinya. Setidaknya ada tiga hal yang telah mengubah hidupnya. Semua itu dipaparkan Zaky dalam kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu.

"Saya berasal dari kampung di pinggir Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Saya bukanlah anak paling pintar di kampung tersebut. Orangtua saya juga bukan paling kaya, keduanya guru mengajar di SMP sekitar rumah. Tapi saya beruntung mereka memikirkan saya, mendidik saya, dan menabung agar saya bisa kuliah di universitas terbaik. Inilah keberuntungan pertama saya dalam hidup. Dan saya kira adik-adik semuanya yang sudah kuliah di salah satu universitas terbaik, sudah jauh lebih beruntung dari saya. Kita harus bersyukur karena ini. Manfaatkanlah keberuntungan ini dengan sebaik-baiknya," ungkap Zaky.

Sebagai mahasiswa dari daerah, Zaky mengaku bahwa kuliah di ITB tidaklah mudah. Ia sempat tidak percaya diri karena banyak mahasiswa ITB yang pintar. Tapi ternyata disanalah keberuntungannya selanjutnya. Ia berteman dengan orang-orang yang jauh lebih pintar. Salah satu teman dekatnya adalah mahasiswa paling pintar di ITB, yang tidak pernah mendapatkan nilai selain A selama kuliah di ITB 4 tahun.

"Satu minggu sebelum ujian biasanya saya datang ke kosan dia untuk belajar. Jadi menjelang hari H saya siap betul. Ketika H-1 teman saya banyak bertanya ke saya soal ujian, pasti bisa, wong saya sudah belajar dari mahagurunya. Dengan mengajari teman-teman, saya juga jadi lebih pintar. Mereka tidak tahu bahwa saya sebelumnya belajar dari Fajrin. Namanya Fajrin Rasyid, dia kini jadi salah satu pendiri dan CFO di Bukalapak," jelas Zaky.

Ia selalu senang hal baru. Menurutnya, hal baru memberikan pembelajaran baru dan wawasan baru. Kampus ITB dimanfaatkannya juga untuk mengeksplor hal-hal baru. Kemudian ia bergabung dengan banyak organisasi sewaktu di ITB.

"Dari KM ITB saya belajar berpikir kritis (kadang sering demo). Dari himpunan saya belajar kekompakan. Dari Menwa saya belajar kedisiplinan dan ketahanan. Dari ARC saya belajar bagaimana ngoprek dan memecahkan suatu masalah," ungkap Zaky.

Suatu ketika, Zaky dikontak oleh sebuah stasiun televisi untuk membuat sebuah software quick count pemilu, mereka mendapatkan referensi dari temannya. Zaky pun meyakini bisa melakukanya dan menerima tawaran tersebut.

"Mereka bertanya berapa biayanya? Saya jawab 1,5 juta. Hitung-hitungan saya, uang tersebut cukup untuk 6 bulan hidup, toh cuma 7 hari pengerjaannya. Pasti untung, wong tidak ada biaya," kata Zaky.

Pagi-siang-malam ia begadang mengerjakan software tersebut di kosan (Tubagus) dan akhirnya di hari H software tersebut lancar disiarkan di stasiun TV nasional. Namun belakangan ia baru mengetahui nilai proyeknya ratusan juta. Tapi ia tidak menyesal karena setelahnya ia yang masih kuliah tingkat 3 waktu itu, mendapatkan kepercayaan dari stasiun TV nasional untuk project selanjutnya, yang tentu nilainya kini berbeda dari sebelumnya.

"Saya naikkan 10x lipat dan mereka masih mau! Kesenangan inilah yang menjadi momen penting dan jatuh cintanya saya pada dunia software," ucap Zaky.

Setelah lulus, Zaky sejenak pulang kampung. Ia mengamati banyak sekali tetangga di kampung yang memiliki usaha kecil, tapi pendapatannya masih sama dengan belasan tahun sebelumnya, padahal ada inflasi. lnilah yang menjadi inspirasi awal pembuatan software lanjutannya, supaya software tersebut bisa membuka kesempatan bagi usaha-usaha kecil untuk melebarkan sayap dan berkembang lebih besar lagi.

"Perjalanan baru pun dimulai. Saya mencari nama dan domain. Dari ratusan nama yang saya daftar, terpilihlah Bukalapak. Selain harganya murah 90 ribu, nama ini menggambarkan misi software ini, bahwa siapapun bisa semudah menggelar tikar atau lapak dengan software. Siapapun bisa berbisnis dan menjadi besar lewat Internet," ungkapnya.

Ia juga memutuskan mencari partner, karena misi besar ini tidak bisa saya bangun sendirian. Tidak banyak yang tertarik ketika saya utarakan konsep Bukalapak, tapi ia tidak menyerah. Zaky akhirnya dipertemukan dengan teman yang sebenarnya sudah lama satu jurusan dan juga satu SMA, Xinuc, saat ini CTO di Bukalapak. Dia tidak aktif organisasi, tapi senangnya ngoprek komputer di kosan.

Ketika Zaky menceritakan ide Bukalapak, temannya sangat bersemangat. Rupanya dia selama ini di kosan terus karena terobsesi dengan mesin. Bagaimana menciptakan mesin yang bisa secara bersamaan digunakan oleh jutaan orang. "Ini menarik," kata teman Zaky.

Mereka pun diskusi siang-malam bagaimana memulai semua mimpi kami tersebut. Mereka kemudian mulai membangun Bukalapak selama dua bulan non-stop berdua di kamar kosan.

"Ya, dua laki-laki dalam satu kos. Tapi ini ga aneh-aneh lo ya, ha ha ha... Kita berdua ini sedang membuat software. Website kami live pada Januari 2010, dan tidak ada yang mengunjungi website kami. Ada sih 1-2 pengunjung tapi pas kita cek sistem, itu komputer kami sendiri, sedih dan marah rasanya, tapi lagi-lagi kita pantang padam. Kami selalu ingat Tujuan Besar kami," katanya.

Perjalanan baru dimulai. Zaky mulai sisir lapak-lapak di pinggir jalan (offline) dan juga online untuk bergabung dengan Bukalapak. Banyak yang tidak tertarik dengan software mereka. Tapi ada segelintir yang tertarik. Aktivitas itu ia ulangi terus setiap hari hingga 1 tahun mereka memiliki pasukan UKM hingga 10 ribu. "Kami senang karena Tujuan kami perlahan-lahan mulai mewujud," ucap Zaky.

Tetapi ada satu masalah besar, bisnis Internet saat itu memang belum matang, pasarnya juga masih kecil. Uang pribadinya habis untuk menghidupi Bukalapak. Zaky mencoba cari investor, tidak ada yang tertarik. Sementara orang tua dan mungkin calon mertua sudah mulai bertanya di mana tempat ia bekerja.

"Pertanyaan sakral ini menghantui kami terus, selain kenyataan bahwa kas kami sudah nol. Xinuc pun pernah memiliki ide bagaimana kalau kita sudahi saja. Tapi sekali lagi kami tidak menyerah, saya selalu ingatkan diri dan Xinuc juga pada Tujuan Akhir," ungkapnya.

Zaky pun menyampaikan kepada Xinuc untuk melihat 10 ribu UKM itu, yang hidup dari Bukalapak. Kalau ini ditutup, mereka hidup dari mana? Selalu mengingat Tujuan Utama dan Tujuan Akhir bahwa akan terus semangat. Tak diduga-duga, pertumbuhan Bukalapak pun lebih cepat setelah itu. Internet di tahun 2012 menjadi bisnis yang sudah mulai menarik dan terus berlanjut. Per hari Bukalapak memiliki 1,8 juta UKM dan juga memproses 1 triliun-an transaksi setiap bulannya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ning Rahayu
Editor: Rizka Kasila Ariyanthi

Advertisement

Bagikan Artikel: