Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Jangan Kasih Kendur! Pemerintah Diminta Percepat Belanja Negara

Jangan Kasih Kendur! Pemerintah Diminta Percepat Belanja Negara Kredit Foto: Antara/BPMI Setpres/Handout
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tahun 2020 sungguh menjadi tahun yang amat pelik bagi kinerja APBN. Pandemi Covid-19 yang datang di awal tahun telah menjadi faktor terbesar dalam memengaruhi seluruh aspek kehidupan. Bermula dari masalah kesehatan, menjadi masalah sosial, ekonomi, dan keuangan di seluruh dunia. Ketidakpastian yang tinggi hingga bayang-bayang resesi menghampiri ekonomi dunia.

Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I sedikit beruntung karena masih tumbuh positif sebesar 2,97% di saat banyak negara tumbuh negatif. Namun, itu hanya permulaan, penentuan sesungguhnya terjadi pada kuartal II 2020. Pemerintah mengestimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 akan merosot, yakni -4,3% (yoy).

Baca Juga: Semester I 2020, APBN Defisit 1,57% PDB

Membuat kebijakan di tengah pandemi tentu tidaklah mudah. Kebijakan seperti pembatasan sosial sekala besar (PSBB) dan memindahkan aktivitas kantor, belajar, dan beribadah di rumah membuat sebagian besar aktivitas ekonomi tak bergerak. Namun, di balik itu semua, kita berharap ekonomi Indonesia tidak akan mengalami hal yang serupa dengan Singapura di kuartal II-2020 yang jatuh sangat dalam hingga negatif 12,6% (yoy).

Peneliti Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Dwinda Rahman mengatakan, penurunan kinerja ekonomi Indonesia terlihat dari realisasi APBN 2020 Semester I 2020. Pendapatan negara sebesar Rp811,2 triliun (47,7%) dari target APBN Perpres 72/2020 atau tumbuh negatif 9,8% jika dibandingkan dengan tahun lalu (yoy).

"Hal ini disebabkan penerimaan pajak yang selama ini menjadi penyumbang terbesar turun di semester I-2020 hingga 12% (yoy), sedangkan PNBP (pendapatan negara bukan pajak) turun 11,8% (yoy). Namun, kita patut syukuri, penerimaan bea dan cukai masih dapat tumbuh positif 8,8%," ujarnya di Jakarta, Rabu (22/7/2020).

Dirinya menuturkan, saat pandemi, belanja negara yang deras menjadi kunci untuk memulihkan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat. Di semester I-2020 terlihat realisasi belanja negara meningkat 3,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, belanja pemerintah pusat tumbuh 6% (yoy).

"Hal ini menandakan pemerintah bekerja lebih keras dan cepat dari biasanya. Pada kuartal III belanja perlu lebih cepat dan tepat. Defisit juga lebih tinggi dari tahun lalu dari 0,85% menjadi 1,57%. Hal ini tidak mengherankan karena memang butuh ruang untuk mencari pembiayaan," tukasnya.

Baca Juga: Bank Mandiri Bidik Penyaluran Kredit Tumbuh Hingga 12% pada 2023

Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Bagikan Artikel: