Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Strategi Sukses Transformasi Bisnis di Era Disrupsi

Strategi Sukses Transformasi Bisnis di Era Disrupsi Kredit Foto:
Warta Ekonomi, Jakarta -

Transformasi bisnis di era digitalisasi di tengah pandemi Covid-19 saat ini menjadi suatu keharusan.

Perusahaan-perusahaan siap atau tidak siap harus bertransformasi agar tetap survive di tengah situasi bisnis yang semakin menantang.

Kemal Effendi Gani, Group Chief Editor SWA mengungkapkan, kondisi perusahaan-perusahaan di Indonesia saat sulit ini dibedakan menjadi dua.

Pertama, beradaptasi dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi (bertranformasi).

Kedua, tetap berjalan dengan pola dan perilaku bisnis lama, sehingga bisa jadi perannya menjadi tidak relevan, dan mungkin saja pelan-pelan akan mati.

Terkait hal itu Majalah SWA bekerja sama dengan SWANETWORK menyelenggarakan Webinar & Virtual Awarding:  Indonesia Best Business Transformation dengan tema “Rahasia Sukses Transformasi Bisnis di Era Disrupsi” secara online  pada Rabu, 4 Agustus 2021 jam 14.00–17.00 WIB.

Acara webinar yang dikemas dengan pemberian penghargaan  tersebut menghadirkan empat pembicara menarik. Mereka adalah CEO  PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk Tommy Wattimena, Direktur Utama PT Elnusa Petrofin Harus Syahrudin, Direkur PT Pyridam Farma Tbk Yenfrino Gunadi dan Chief Digital Officer Allianz Life Indoesia Mike Sutton.

Selain webinar, SWA dan SWANETWORK menggali best practices dalam hal transformasi bisnis  dengan menggelar  penghargaan ‘Indonesia Best Business Transformation”.

Sebetulnya, ajang best practices transformasi ini memang bukan hal baru bagi SWA, karena sudah dilakukan beberapa kali di masa lalu (bekerja sama dengan lembaga lain).

“Meningkatnya urgensi terhadap program transformasi di kalangan perusahaan akibat disrupsi ganda mendorong kami menyelenggarakan ajang konten transformasi bisnis tahun ini, walaupun kali ini tanpa kerja sama dengan lembaga lain,".

"Alhamdulillah, sejumlah tokoh senior di bidang bisnis bersedia membantu kami untuk berperan sebagai Dewan Juri,” ujar Kemal Effendi Gani. 

Momen ini adalah kesempatan bagi mereka untuk mempresentasikan program transformasi mereka, mulai dari identifikasi problem bisnis hingga pemaparan hasil dan dampak transformasi.

Dari partisipan sebanyak itu, berdasarkan hasil penilaian, Dewan Juri menetapkan ada 15 partisipan yang dinilai terbaik, sehingga layak digolongkan sebagai best practices.

Tiga nama yang menjadi contoh di atas –Sreeya Sewu, Pegadaian, dan Sasa Inti– termasuk dalam barisan 15 perusahaan partisipan terbaik.

Yang menarik, di dalam menajalankan transformasi bisnis berlaku one size does not fit all. Desain program transformasi suatu perusahaan tak bisa begitu saja diterapkan di perusahaan lain.

Sebab, problem dan tantangan bisnis yang dihadapi masing-masing perusahaan berbeda, apalagi bila industrinya berbeda.

“Selain itu, ukuran bisnis dan kompleksitas perusahaan tentu berbeda-beda. Best practices sebagaimana ditunjukkan oleh 15 perusahaan partisipan terbaik tentu lebih sebagai referensi,” kata Kemal menguraikan.

Menyimak pemaparan para partisipan, ada beragam cara transformasi yang dipraktikkan. Pertama, mentransformasi model bisnis dan portofolio bisnis.

Dalam hal ini, perusahaan mentransformasi apa yang ditawarkannya, menentukan siapa pelanggannya, apa revenue stream-nya, dan apa saja jenis lini bisnisnya.

Kedua, mentransformasi struktur organisasi. Di sini perusahaan melakukan penyesuaian struktur organisasi yang dinilai sesuai dengan kebutuhan pasar/pelanggan. 

Keempat, mentransformasi SDM. Dalam hal ini, yang biasanya ditransformasi adalah pola pikir (mindset) karyawan, serta penambahan skill baru (reskilling dan upskilling) agar sesuai dengan orientasi dan model bisnis baru perusahaan.

Dalam praktiknya, umumnya perusahaan melakukan beberapa macam jurus transformasi itu dalam program transformasi korporatnya. Tentu saja, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya.

CEO  PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. (dulu PT Sierad Produce Tbk), Tommy Wattimena mengungkapkan, tahun 2021, perusahaan poultry kami hampir bangkrut dengan kerugian ratusan miliar rupiah.

Selain itu, ada tantangan berupa industrinya yang tidak efisien, terutama karena tidak efisiennya produksi jagung yang menyebabkan pakan utama unggas ini mahal.

Selain itu, pencatatan data dan manajemen bisnis unggas di Indonesia pun buruk, sehingga kalangan perbankan enggan masuk membiayai sektor ini.

“Ke depan, industri poultry nasional juga akan menghadapi tantangan masuknya ayam impor, terutama dari Brasil, sebagai konsekuensi dari hasil sidang WTO. Inilah faktor-faktor mendorong kami melakukan transforasi, “ jelas  CEO  PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. (dulu PT Sierad Produce Tbk), Tommy Wattimena.

Lain lagi tantangan yang dihadapi PT Pegadaian (Persero). Menurut Kuswiyoto, Dirut Pegadaian, terjadi perubahan luar biasa di sisi eksternal yang berdampak pada kinerja bisnis Pegadaian.

Di sisi lain, secara internal Pegadaian masih menghadapi sejumlah masalah, seperti praktik manajemen bisnis yang sebagian masih tradisional (manual dan paper-based), tergantung pada single channel (outlet), bunga pinjaman kurang fleksibel, teknologi belum up-to-date, dan budaya kerja cenderung pasif (menunggu nasabah datang).

“Jadi, kalau hal-hal seperti itu tak direspons dengan baik, bisa dibayangkan, bisnisnya akan tergerus para pesaing barunya itu. Alhasil, transformasi bisnis pun dilakukan,” ujar Kuswiyoto. 

Untuk diketahui, gelaran webinar dan awarding SWA ini  didukung oleh sejumlah sponsor, yaitu Sreeya, Allianz, DV Medika, Alfamart, Pegadaian, Daya Group, Great Eastern, Pupuk Indonesia plus Elnusa Petrofin.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan