Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Industri Asuransi Umum Tumbuh Terbatas, AAUI Siapkan Fondasi Baru Hadapi Tantangan 2026

Industri Asuransi Umum Tumbuh Terbatas, AAUI Siapkan Fondasi Baru Hadapi Tantangan 2026 Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri asuransi umum Indonesia sedang berada di titik yang tidak sepenuhnya nyaman. Angka pertumbuhan memang masih positif, tetapi lajunya tertahan. Di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya solid, perubahan regulasi besar-besaran, dan disrupsi teknologi yang kian agresif, industri ini bergerak dalam ruang sempit: bertahan tanpa boleh salah langkah.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan tidak menutup mata terhadap kenyataan tersebut.

“Kalau industri, saya masih melihat di bawah satu digit,” ujarnya, singkat namun tegas, dalam wawancara eksklusif dengan Warta Ekonomi di Kantor AAUI, Kuningan, Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Pernyataan itu bukan sekadar gambaran statistik. Ia mencerminkan fase transisi industri yang sedang diuji dari berbagai arah sekaligus: perlambatan ekonomi global, pengetatan permodalan, hingga perubahan paradigma akuntansi lewat implementasi penuh PSAK 117/IFRS 17. Semua datang hampir bersamaan, memaksa pelaku industri untuk menata ulang cara mereka memahami risiko, modal, dan keberlanjutan bisnis.

Tantangan yang Tak Lagi Sederhana

Jika sebelumnya tantangan industri asuransi umum berkutat pada penetrasi pasar dan literasi, kini spektrumnya jauh lebih kompleks. Kewajiban pemenuhan ekuitas minimum menuntut perusahaan lebih disiplin dalam mengelola permodalan. PSAK 117 memaksa transparansi yang lebih tinggi, mengubah cara perusahaan membaca profitabilitas dan risiko jangka panjang.

Baca Juga: Menakar Strategi Asuransi Candi Hadapi 2026

Di sisi lain, lanskap persaingan juga berubah. Perusahaan asuransi tidak lagi hanya berhadapan dengan sesama pemain lokal, tetapi juga dengan standar global—baik dari sisi harga, layanan, maupun kecepatan proses.

“Persaingan global itu sangat tajam. Market juga semakin rasional,” kata Budi.

Dalam konteks ini, pertumbuhan di bawah satu digit bukan semata-mata kegagalan, melainkan sinyal bahwa industri harus memperkuat fondasi sebelum kembali melaju lebih kencang.

PINDAI: Bukan Sekadar Proyek, Tapi Infrastruktur Industri

Jawaban AAUI atas tantangan tersebut tidak datang dalam bentuk kebijakan jangka pendek. Pada 2026, asosiasi ini meluncurkan Pusat Informasi Data Industri Asuransi (PINDAI) sebuah entitas yang dirancang sebagai infrastruktur strategis industri, bukan sekadar unit pendukung.

“Ini adalah cikal bakal kita menjawab tantangan industri asuransi umum ke depan,” ujar Budi.

Secara kepemilikan, PT Pindai dimiliki AAUI sebesar 95%, sementara 5% sisanya dimiliki PT Reasuransi Maipark. Komposisi ini mencerminkan semangat kolektif industri bahwa penguatan fondasi tidak bisa dilakukan secara individual, melainkan melalui kerja bersama.

PINDAI dibangun di atas tiga pilar utama: SDM, data, dan teknologi. Ketiganya bukan dipilih secara kebetulan, melainkan karena dianggap sebagai titik lemah struktural industri asuransi umum selama bertahun-tahun.

Pilar pertama PINDAI menyasar persoalan klasik namun krusial: sumber daya manusia. Bagi AAUI, persoalan SDM tidak lagi cukup dijawab dengan pelatihan teknis semata.

“Industri hari ini dan ke depan membutuhkan SDM yang tidak hanya kompeten, tapi juga memahami keseluruhan ekosistem,” kata Budi.

Melalui PINDAI, AAUI mengonsolidasikan pelatihan dan sertifikasi lewat Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Pendekatannya tidak parsial, melainkan holistik mencakup underwriting, klaim, manajemen risiko, kepatuhan regulasi, hingga pemahaman teknologi dan data.

Standarisasi ini diharapkan menciptakan bahasa yang sama di dalam industri, sekaligus meningkatkan daya saing SDM asuransi Indonesia di tingkat regional dan global.

Baca Juga: Aset Industri Asuransi Tumbuh 5,96% hingga November

Jika SDM adalah penggerak, maka data adalah kompas. Selama ini, data industri asuransi umum di Indonesia tersebar, tidak sepenuhnya terintegrasi, dan kerap tertinggal dari dinamika pasar.

“Padahal data itu kunci. Tanpa data yang lengkap dan up to date, kebijakan apa pun jadi spekulatif,” ujar Budi.

PINDAI hadir untuk menjawab celah tersebut. Data teknis dari setiap lini usaha akan dihimpun secara bertahap, dengan tetap mematuhi prinsip perlindungan data konsumen. Data tersebut kemudian diolah oleh aktuaria untuk menghasilkan tarif referensi—sebuah baseline yang memberi gambaran tarif wajar di industri.

Tarif ini tidak dimaksudkan untuk membatasi pasar, melainkan menjadi rujukan agar persaingan tetap sehat dan berkelanjutan.

Pilar ketiga PINDAI menyentuh area yang tak terelakkan: digitalisasi. Industri asuransi umum semakin membutuhkan sistem berbasis teknologi dan kecerdasan buatan, mulai dari underwriting hingga klaim.

Untuk itu, PINDAI menggandeng Peak3, perusahaan teknologi asal China, yang juga berkomitmen menanamkan investasi sebesar USD 2–3 juta.

Kolaborasi ini diharapkan mempercepat adopsi AI dan platform digital di industri asuransi umum Indonesia bukan sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar meningkatkan efisiensi dan akurasi pengelolaan risiko.

Menata Ulang Masa Depan Industri

Di tengah pertumbuhan yang masih terbatas, langkah AAUI melalui PINDAI menunjukkan bahwa industri asuransi umum tidak memilih jalan pintas. Alih-alih mengejar angka dalam jangka pendek, asosiasi ini memilih membangun fondasi yang lebih kokoh: SDM yang relevan, data yang kredibel, dan teknologi yang adaptif.

Bagi industri asuransi umum, tantangan 2026 bukan hanya soal bertahan, tetapi soal relevansi. Dan PINDAI menjadi simbol upaya industri untuk tetap relevan di pasar yang berubah cepat, di bawah tekanan global, dan di tengah ekspektasi yang semakin tinggi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: