Waspada! Tidak Hanya Balita, Usia Remaja Juga Bisa Kurang Gizi

Waspada! Tidak Hanya Balita, Usia Remaja Juga Bisa Kurang Gizi Kredit Foto: Mochamad Ali Topan

Masalah kekurangan gizi tidak hanya terjadi pada anak di usia balita, tetapi bisa terjadi pada kalangan kaum remaja saat ini. Data Riskesdes Kementerian Kesehatan di tahun 2013 mencatat, prevalensi anemia pada remaja cukup tinggi, mencapai 22,7 persen. Sementara, data Balitbangkes tahun 2015 menyebutkan, rata-rata tingkat kecukupan energi dan protein remaja (72,3 persen dan 82,5 persen); paling rendah di antara kelompok usia lainnya. Bahkan, 52,5 persen remaja mengalami defisiensi energi berat (<70 persen) kebutuhan energi harian.

Sementara itu, dari data Inter-Agency Working Group on Reproductive Health in Crisis (2010), diketahui, anak perempuan berusia 15-19 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk meninggal saat melahirkan daripada perempuan yang berusia 20-an tahun.

Baca Juga: Danone Indonesia Bersama LP Ma’arif NU Gelar Edukasi Gizi untuk Remaja

Menanggapi hal itu, Koordinator Substansi Potensi Daya Prmosi Kesehatan, Bambang Purwanto, secara tegas mengatakan bahwa pemerintah melalui Kemenkes membuat kebijakan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN 2020-2024) untuk meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta terutama penguatan pelayanan kesehatan dasar.

Kemenkes, kata Bambang, membuat target dan strategi Kemenkes 2021 menjadi 5 prioritas yang salah satunya adalah peningkatan kesehatan ibu, anak reproduksi, dan percepatan perbaikan gizi masyarakat.

"Selain masalah itu, promosi kesehatan yaitu proses untuk memberdayakan masyarakat melalui kegiatan menginformasikan, memengaruhi, dan membantu masyarakat agar berperan aktif untuk mendukung perubahan perilaku dan lingkungan serta menjaga dan meningkatkan kesehatan menuju derajat kesehatan yang optimal juga menjadi kunci untuk mengatasi permasalahan ini," tegas Bambang dalam acara "Penandatanganan Kerja Sama LP Ma'arif NU PBNU dengan Danone Indonesia Launching Program GESID 3 Kabupaten Jatim" secara virtual di Surabaya, kemarin.

Sementara itu, terkait kerja sama LP Ma'arif NU PBNU dengan Danone Indonesia dalam program GESID, VP Genaral Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto, mengungkapkan, pihaknya memiliki kepedulian terhadap permasalah kesehatan bagi kaum remaja selama ini. Untuk itu, kata Vera, Danone Indonesia telah membuat buku panduan program GESID untuk kaum remaja serta edukasi kesehatan.

Vera menjelaskan, buku panduan GESID itu disusun berbicara mengenai tiga pilar utama bagi para remaja, yaitu Aku Peduli, Aku Sehat, dan Aku Bertanggung Jawab. Ketiga pilar ini tidak hanya mengajarkan tentang komposisi makan yang dapat memenuhi kecukupan gizi para remaja, tetapi juga bagaimana hal itu akan memengaruhi mereka di masa mendatang dan mengajak mereka untuk bertanggung jawab atas diri mereka.

"Program GESID ini akan diimplementasikan di sekolah-sekolah dan madrasah melalui kerja sama dengan LP Ma’arif NU PBNU. Sebagai Lembaga pendidikan yang menaungi sekolah dan madrasah dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK," ungkap Vera.

Selain itu, Vera mengatakan bahwa dalam program ini, Danone Indonesia bersama LP Maarif NU bersama-sama memberikan edukasi, pendampingan dan evaluasi program secara berkala untuk mengukur pemahaman dari para siswa dan guru di sekolah.

"Kami berharap program ini dapat dilakukan di banyak sekolah menengah lain sehingga akan lahir duta-duta GESID yang membantu lebih banyak remaja untuk memahami dan menerapkan pola makan dengan gizi seimbang," sambung Vera.

Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU PBNU, K.H.Z. Arifin Junaidi, menyambut baik langkah Danone Indonesia dalam kepedulian terhadap kesehatan serta edukasi bagi kaum remaja dalam menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

"Kami sangat mengapresiasi kolaborasi dengan Danone Indonesia dalam memberikan edukasi remaja melalui program GESID ini. Latar belakang dari kerja sama ini ialah kami merasa berkepentingan untuk melakukan penguatan pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dan madrasah pada isu kesehatan dan gizi remaja. Kami berharap melalui sosialisasi ini, dapat terjadi perubahan sikap dan perilaku yang positif di sekolah dan madrasah untuk SDM Indonesia yang sehat, berkarakter, berdaya saing tinggi, dan memiliki produktivitas yang membanggakan demi terciptanya generasi emas Indonesia," pungkas Arifin.

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini