Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Senyum Semringah Petani Milenial Perkotaan Hadapi Tekanan Pandemi

Senyum Semringah Petani Milenial Perkotaan Hadapi Tekanan Pandemi Kredit Foto: Taufan Sukma
Warta Ekonomi, Bandung -

Hari masih begitu muda. Tinggi matahari juga masih sepenggalah. Di sebidang tanah yang diapit rumah-rumah di sebuah kompleks perumahan, dua pemuda tengah sibuk mengayunkan cangkulnya ke tanah. Satu lagi temannya, seorang wanita berjilbab, tengah sibuk menyiapkan beberapa alat pertanian dan sejumlah bibit tanaman. “Sebentar lagi dimulai. Materi hari ini soal pindah tanam. Jadi bibit-bibit ini akan kita coba pindah tanam ke lahan lain, yang di bawah menara sutet sana,” ujar Vania, nama wanita itu, menjelaskan tema kegiatan komunitasnya di Minggu (7/12) pagi ini.

Nama lengkapnya Vania Febriyantie. Seorang Sarjana Biologi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, yang sempat menjabat sebagai Kepala Kebun selama empat tahun bergabung di Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup (Ecocamp). Bersama teman-temannya dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi, Vania membentuk sebuah komunitas diskusi yang concern terhadap isu ketersediaan pangan yang sehat untuk seluruh masyarakat. Tak hanya menyoroti produk pangannya saja, komunitas ini juga miris melihat banyaknya lahan tidur di kawasan perkotaan yang terbengkalai. Sementara di lain pihak, ketersediaan lahan untuk memproduksi bahan pangan lambat laun semakin berkurang lantaran beralih fungsi menjadi pemukiman dan sejumlah keperluan lainnya. “Kami menyebut gerakan ini adalah gerakan ‘Seribu Kebun’, yaitu bagaimana kita bisa mengusahakan kebun atau lahan tanam yang sebanyak-banyaknya. Termasuk di lahan-lahan tidur yang ada banyak sekali di perkotaan. Ini penting, karena kalau kebun dan sawah terus-terusan berkurang, ke depan kita mau makan apa?” tutur Vania, beretorika.

Permasalahan terus berkurangnya lahan persawahan yang menjadi keprihatinan Vania dan kawan-kawan memang tak terbantahkan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2019 lalu total ketersediaan lahan sawah secara nasional tercatat seluas 7,46 juta hektar. Angka luasan tersebut jauh berkurang dalam tiga tahun terakhir, di mana pada 2016 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lahan persawahan yang tersedia masih seluas 8,19 hektar. Bahkan, Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut bahwa secara rata-rata luasan sawah nasional mengalami penyusutan hingga 650 hektar tiap tahunnya. Catatan luasan sawah secara nasional tertinggi pernah dicapai pada 1990 lalu, berjarak 31 tahun dari saat ini, yaitu mencapai 8,3 juta hektar. “Kalau dikaitkan dengan kemampuan produksi, (angka penyusutan) Itu ekuivalen dengan (berkurangnya) 6,5 juta ton beras secara nasional,” ujar Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy, dalam satu kesempatan.

Pandemi

Dan masa-masa kesulitan mendapatkan pasokan produk pangan itu akhirnya datang juga. Terjadinya pandemi COVID19 yang melanda hampir seluruh wilayah di dunia, membuat berbagai daerah terpaksa menutup diri guna meminimalisasi potensi penularan virus mematikan. Salah satu akibatnya, suplai bahan pangan dari desa ke wilayah perkotaan menjadi terhambat. Kondisi sulitnya mendapatkan pasokan bahan pangan ini juga sempat dirasakan oleh masyarakat di tempat Vania tinggal, di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. “Akhirnya dengan kondisi yang terjadi, kami merasa inilah saatnya untuk benar-benar action, mengeksekusi ide-ide yang selama ini kami diskusikan. Jadi sejak Nopember 2020, kami mulai menggarap lahan tidur untuk dijadikan kebun pangan yang kami beri nama Kebun Seni Tani. Total luasnya sekitar 1.000 m2, yang terbagi jadi dua kebun, yaitu kebun komunal dan kebun produksi,” ungkap Vania.

Kebun Komunal, dijelaskan Vania, pada dasarnya merupakan lahan fasilitas umum (fasum) milik kompleks tempat Vania tinggal, yang dipinjam pakai atas ijin pihak kelurahan dan kecamatan setempat. Sementara yang disebut dengan kebun produksi, merupakan kapling tanah milik perorangan yang dipinjamkan secara gratis kepada Komunitas Seni Tani agar lebih bisa dimanfaatkan secara lebih optimal sebagai lahan pertanian. Di Kebun Komunal, setiap Hari Minggu pagi diadakan kegiatan berkebun bersama untuk umum. Sedangkan di Kebun Produksi, Vania dan kawan-kawan mencoba merangkul masyarakat setempat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi dengan mengajaknya menjadi para petani perkotaan. Salah satunya adalah pemuda dari kompleks sebelah yang bernama Yadi. “Sejak Nopember 2020 lalu kami coba ‘menyehatkan’ kembali lahannya dengan metode pertanian regeneratif. Dan alhamdulillah, sejak Januari hingga saat ini, kami sudah menghasilkan sekitar 400 sampai 600 kilogram sayuran, yang hasil panennya kami distribusikan melalui sistem Community Supported Agriculture (CSA),” sahut Yadi, menambahkan.

Advanced Payment

Melalui konsep CSA ini, Komunitas Seni Tani mencoba menerapkan sebuah sistem win-win solution yang diharapkan dapat membuat kegiatan pertanian bisa lebih sustainable. Konsep ini diantaranya didasarkan atas keprihatinan terhadap petani yang kerapkali kesulitan mendapatkan modal saat mulai menanam, namun di lain pihak saat panen justru juga kesulitan dalam menjual produk hasil panennya. Maka yang digagas oleh Komunitas Seni Tani adalah dengan membuka sistem langganan yang dimodifikasi menjadi semacam keanggotaan (membership). “Jadi para member CSA ini akan membayar pada kami, lalu dana yang terkumpul akan menjadi modal bagi Si Petani untuk mulai menanam. Sebulan kemudian saat panen, kami akan mengirimkan sayur-sayuran hasil panennya ke mereka setiap seminggu sekali,” ungkap Vania.

Dengan skema serta alur produksi dan distribusi semacam itu, menurut Vania, maka petani tidak akan lagi kesulitan dalam mencari modal saat akan mulai menanam. Di lain pihak, petani juga tidak akan pusing lagi untuk mendistribusikan produk hasil panennya lantaran jumlah dan berikut identitas masing-masing pelanggan sudah di tangan. Saat ini, sedikitnya sekitar 10 hingga 15 orang pelanggan yang bergabung dengan sistem CSA ini setiap bulannya. Sedangkan dari segi luasan lahan dan kemampuan produksi, Kebun Seni Tani diprkirakan mampu menyuplai hasil panen ke sekitar 50 kepala keluarga (KK) dengan asumsi masing-masing KK terdiri dari sepasang ayah-bunda dengan dua anak. “Jadi kapasitas berlangganan kami yang 50 KK itu dengan asumsi per satu orang memberi makan empat orang. Artinya kalau ada yang keluarga besar, misal sampai berdelapan atau sepuluh orang, ya tingga menyesuaikan saja,” papar Vania.

Konsep berlangganan produk pertanian ala CSA sendiri menurut Vania diadopsinya dari konsep serupa yang diterapkan di beberapa negara lain. Di luar negeri, CSA lebih dimaknai sebagai Community Shared Agriculture, yaitu semangat berbagi hasil panen produk pertanian dengan juga kesadaran untuk berbagi risiko atas adanya potensi gagal panen, yang biasanya sepenuhnya ditanggung oleh petani. Konsep CSA biasanya diterapkan untuk jenis produk pertanian organik ataupun biodinamik dengan kualitas premium. Konsep ini, diantaranya, pernah diterapkan di Amerika Serikat dan Kanada pada era 1980-an. Sedangkan di Jepang konsep sejenis lebih dikenal dengan sebutan Teikai. “Tapi meskipun sitilahnya berbeda, inti semangatnya adalah berbagi risiko dalam sebuah proses budidaya. Karena selama ini kita bisa lihat salah satu masalah krusial di bidang pertanian adalah besarnya risiko yang harus ditanggung oleh petani seorang diri, mulai dari permodalan hingga risiko gagal panen,” tandas Vania.

Apresiasi Astra

Inovasi sistem pengelolaan sosial-bisnis ala CSA inilah yang kemudian menjadi pertimbangan bagi PT Astra International Tbk untuk menobatkan Vania dengan Komunitas Seni Tani-nya sebagai salah satu pemenang dalam kegiatan SATU Indonesia Awards 2021. Dalam pandangan pihak Astra, konsep CSA merupakan bentuk advance payment yang cukup solutif dalam menjawab dua permasalahan klasik di sektor pertanian, yaitu permodalan sekaligus manajemen distribusi hasil panen bagi petani. Sedikitnya ada tiga poin utama yang menjadi kekuatan dalam konsep CSA yang diapresiasi dalam sistem penjurian SATU Indonesia Awards 2021, yaitu lokalitas gerakan, pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan program. Hal ini sejalan dengan tema penyelenggaraan SATU Indonesia Awards, yang pada tahun ini mengangkat tema ‘Semangat Melaju Bersama’. “Di masa pandemi yang penuh tantangan seperti saat ini, terbukti tidak menyurutkan semangat anak-anak muda ini untuk terus berkarya. Semoga dengan penganugerahan penghargaan SATU Indonesia ini, akan semakin banyak lagi pemuda-pemudi yang dapat menjadi inspirasi kita semua untuk selalu bersemangat melaju bersama dalam memajukan bangsa,” ujar Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, saat mengumumkan para pemenang SATU Indonesia Awards 2021, pada akhir Oktober 2021 lalu.

Menjadi salah satu pemenang dari SATU Indonesia Awards 2021 jelas membuat Vania dan komunitas Kebun Seni Tani semringah bukan kepalang namun juga sekaligus kaget. Hal itu karena Vania dkk. merasa tidak pernah mengajukan diri untuk mengikuti sebuah kompetisi. Bahkan diakui Vania, dirinya dan teman-teman sebelumnya sama sekali tidak mengetahui tentang kegiatan SATU Indonesia Astra. Menurutnya, sebuah kebanggaan saat mengetahui bahwa kegiatan dengan cakupan wilayah yang masih terbatas yang digagasnya rupanya juga dilirik oleh perusahaan sebesar PT Astra International Tbk. “Bahkan yang menyebut sistem CSA yang kami jalankan itu sebagai Advanced Payment itu juga langsung dari pihak Astra. Mereka yang pertama pakai istilah itu. Kami sih happy-happy saja. Karena meskipun area kegiatan kami bisa dibilang masih hanya sebatas kompleks ini saja, meski juga peminat dan membernya alhamdulillah sudah mencakup Jabodetabek, sama sekali belum menasional, oh ternyata ada yang mengapresiasi lho. Itu benar-benar nggak terpikir sebelumnya oleh kami,” ungkap Vania bahagia.

Tanggung Jawab

Kini, dengan telah ditahbiskan menjadi salah satu dari tokoh inspiratif SATU Indonesia Astra, Vania dan komunitas Kebun Seni Tani tak mau terlena dan bahkan semakin bersemangat untuk berbuat yang lebih lagi. Salah satunya dengan lebih memaksimalkan lagi kampanye tentang pertanian sehat konsep urban farming yang pada dasarnya cukup mudah untuk diterapkan di mana pun. Dengan adanya apresiasi dari Astra Internasional, Vania merasa justru harus lebih bertanggung jawab atas predikat ‘tokoh inspiratif’ yang telah disematkan padanya. “Makanya satu-dua bulan ke depan silakan main ke sini lagi. Rencananya dengan hadiah dari Astra kami mau bikin semacam gazebo tempat semua orang bisa ngariung (berkumpul-red) bareng, berdiskusi sambil masak-masak bareng dengan bahannya dari kebun kita sendiri. Ke depan kami mau tunjukkan bagaimana konsep urban farming dari A to Z, dari hulu ke hilir, dari sejak bibitnya kita tanam sampai bagaimana bisa tersaji siap makan di hadapan kita,” terang Vania bersemangat.

Melalui rencana ke depannya tersebut, Vania dan kolega berharap bahwa kelak tidak ada lagi masyarakat perkotaan dan juga generasi milenial yang merasa gengsi untuk menjadi petani. Konsep urban farming bahkan diyakini Vania bisa dianggap sebagai sebuah gaya hidup sehat, di mana masing-masing kita benar-benar mengetahui asal-usul dan kualitas dari produk pertanian yang kita konsumsi. Terlebih, dalam tahap yang lebih expert, masing-masing masyarakat bisa memanfaatkan lahan yang dimilikinya untuk turut dapat memproduksi sendiri kebutuhan pangannya, setidaknya untuk jenis sayur-mayur atau buah-buahan yang tentunya secara kandungan juga baik untuk tubuh. “Bila semua orang mau peduli, mau tahu dan kemudian mau bergerak minimal untuk dirinya sendiri, untuk kebutuhan konsumsinya sendiri. Atau juga secara komunal menanam sendiri di satu RT, satu RW dan semacamnya, tentu ini akan jadi solusi konkret dan paling realistis untuk mengatasi masalah terus berkurangnya lahan persawahan. Karena balik lagi, seperti yang Saya bilang sejak awal, kalau sawah dan kebun sudah tidak ada lagi, kita semua mau makan apa?” tegas Vania, mengakhiri perbincangan.

Penulis: Taufan Sukma
Editor: Taufan Sukma

Bagikan Artikel:

Video Pilihan