Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Mengapa Minyak Sawit Menjadi Primadona?

Mengapa Minyak Sawit Menjadi Primadona? Kredit Foto: Antara/Akbar Tado
Warta Ekonomi, Jakarta -

Minyak sawit selalu mendapat sorotan dengan berbagai tudingan dari pihak antisawit terutama Uni Eropa. Sejumlah isu tersebut mulai dari deforestasi, kebakaran hutan, emisi gas rumah kaca, gambut dan lainnya yang selalu dikaitkan dengan sawit. Dan akhir-akhir ini Uni Eropa mempersoalkan emisi Indirect Land Use Change (ILUC) minyak sawit dan penghapusan minyak sawit sebagai bahan bakar nabati di Uni Eropa. 

Dengan berbagai tudingan terhadap minyak sawit tersebut, pihak antisawit tersebut masih tetap menggunakan minyak sawit. Melansir laporan PASPI, berikut empat alasan utama mengapa minyak sawit masih menjadi primadona. 

Baca Juga: Kontribusi Sawit Paling Besar Terhadap Ekspor Pertanian Sulawesi Barat

Pertama, minyak sawit jauh lebih murah dibandingkan minyak nabati lain. Kedua, minyak sawit tidak mengandung asam lemak trans sedangkan minyak nabati lain mengandung asam lemak trans.

“Penelitian mutakhir para ahli gizi dan kesehatan di Barat telah membuktikan bahwa lemak trans yang terkandung dalam minyak kedelai dan minyak rapeseed menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah,” catat laporan PASPI. 

Ketiga, minyak sawit mengandung senyawa aktif seperti betakaroten, tokoferol yang bermanfaat sebagai antikanker, antikolesterol, dan anti penuaan dini yang tentunya penting bagi masyarakat.

Keempat, minyak sawit memiliki karakteristik kimia unggul yang sesuai dengan variasi kebutuhan berbagai macam industri pangan.

Penulis: Ellisa Agri Elfadina
Editor: Alfi Dinilhaq

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan