Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Keppres 1 Maret Dikecam! Rezim Ini Jangan Belokkan Sejarah, Jasa Pak Harto Sangat Besar

Keppres 1 Maret Dikecam! Rezim Ini Jangan Belokkan Sejarah, Jasa Pak Harto Sangat Besar Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang tidak mencantumkan nama mendiang Presiden Soeharto terus menuai kecaman.

Pasalnya,  sosok mendiang Soeharto merupakan salah satu tokoh yang berperan besar dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Bahkan, jasanya sangat besar bagi bangsa ini.

"Saya kira, ini sebuah keputusan politik yang sulit diterima akal sehat. Agak aneh saja bagi saya," ujar Ketua Umum Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS) Center, Hardjuno Wiwoho di Jakarta,  Sabtu (5/3).

Baca Juga: Sejarawan Beber Peran Soeharto Soal 1 Maret Memang Dilebihkan, Ternyata Ini Aktor Pentingnya...

Hardjuno pun mengecam keras keputusan pemerintah tersebut.

Menurutnya, peranaan Soeharto dalam pristiwa tersebut sangat besar.

Karena itu, menghilangkan peran Soeharto sama dengan bagian memanipulasi sejarah bangsa Indonesia.

"Menghilangkan peran pak Harto dalam peristiwa 1 Maret 1949 sangat tendensius. Ini keputusan politik yang dilandasi kebencian dari rejim yang berkuasa saat ini," tegas Hardjuno.

Berdasarkan instruksi rahasia tanggal 18-2-1949 yang dikeluarkan oleh Gubernur Militer III/Panglima Divisi III, Kolonel Bambang Sugeng, terlihat jelas peran Letnan Kolonel Soeharto.

Dalam Instruksi Rahasia yang diberikan kepada Cdt Daerah III (Letna Kolonel Soeharto), untuk mengadakan gerakan serangan besar-besaran terhadap Ibu Kota yang dilakukan antara tanggal 25-2 1949 sampai 1-3-1949 dengan mempergunakan bantuan pasukan dari Brigade IX.

"Jadi, sangat jelas dalam instruksi rahasia itu tentang peran pak Harto untuk mengadakan serangan besar-besar," ujarnya.

Baca Juga: Rezim Jokowi Mau Hapus Nama Soeharto dari Sejarah, Mahfud MD Bilang Bukan Dihilangkan Tapi . . .

Karena itu tegas Hardjuno menghilangkan peran Soeharto merupakan bentuk manipulasi sejarah.

Apalagi,  jasa Letkol Soeharto dalam mempertahankan Yogyakarta dalam peristiwa tersebut sangat besar. 

"Saya minta, pemerintah jangan membelokkan sejarah dengan tidak mencantumkan nama Soeharto sebagai salah satu sosok penting di samping sosok-sosok lainnya yang namanya dicantumkan dalam Keppres tersebut," imbuhnya.

Harjuno menilai saat ini ada upaya sistematis menghilangkan nama Presiden Soeharto dalam sejarah bangsa ini.

"Tengok saja saat ini. Semua yang berbau pak Harto maupun trahnya diobok-obok. Ini saya kira, sikap politik yang kerdil," tegasnya.

Baca Juga: Sekda Adi Arnawa Buka Bulan Bahasa Bali Kabupaten Badung

Penulis: Annisa Nurfitriyani
Editor: Annisa Nurfitriyani

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: