Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Jika Harga Pertamax Tidak Naik, Beban Pertamina Bertambah

Jika Harga Pertamax Tidak Naik, Beban Pertamina Bertambah Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax seperti yang telah dilakukan perusahaan lain terhadap produk sejenis dinilai wajar dilakukan PT Pertamina (Persero).

Pasalnya, Pertamax adalah termasuk BBM yang tidak disubsidi Pemerintah sehingga dapat mengikuti harga pasar.

Dari empat jenis BBM nonsubsidi, memang baru tiga  jenis BBM yang harganya sudah disesuaikan,  yaitu Petamax Turbo, Pertade, dan Dexlite, dimana volume penjualannya hanya 3% saja.

Sedangkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax, yang volumenya sekitar 14%, saat ini dijual Rp9.000 per liter. Harga tersebut sudah bertahan sejak lebih dari dua tahun lalu.  Padahal produk BBM sejenis Pertamax dengan kadar oktan (RON) 92 dari perusahaan lain dijual sekitar Rp11.900-Rp12.990 per liter.

David E Sumual, Kepala Ekonomi PT  Bank Central Asia Tbk (BCA), mengatakan untuk menyesuaikan harga Pertamax, bisa dengan membandingkan dengan pesaing Pertamina. Misalnya produk BBM RON 92, pesaing Pertamina sudah mirip dengan harga market.

“Pertamax dan Pertalite kan tidak dalam posisi harga minyak sekarang,” ujarnya, Kamis (17/3/2022).

Menurut David perbedaan harga Pertamax - Pertalite dengan harga market sekitar US$20-40 per barel,  bergantung pada pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS, yakni saat ini antara Rp14.200-Rp14.400 per dolar AS. “Harga Pertamax-Pertalite memang wajar untuk dinaikkan, apalagi produk sejenis dari perusahaan lain sudah dinaikkan,” katanya.

Baca Juga: Pembangunan KEK Kura-Kura Bali Diharapkan Dapat Mendukung Quality Tourism di Bali

Halaman:

Editor: Ferry Hidayat

Advertisement

Bagikan Artikel: