Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Omongan Ade Armando Gak Kira-kira: Mudah-mudahan Umat Islam Bisa Terbuka Kesadaran dan Mata Hatinya

Omongan Ade Armando Gak Kira-kira: Mudah-mudahan Umat Islam Bisa Terbuka Kesadaran dan Mata Hatinya Kredit Foto: Instagram/Ade Armando
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pegiat media sosial sekaligus Dosen Universitas Indonesia atau UI Ade Armando menegaskan peraturan wajib berhijab masih bisa diperdebatkan. Memutuskan untuk berhijab atau tidak kata Ade adalah sebuah pilihan yang tidak dapat dipaksakan oleh siapapun.

Pernyataan itu disampaikan Ade setelah dirinya mendapat laporan tentang seorang siswi yang dipaksa berjilbab di sebuah Sekolah Negeri. Ade tidak mengungkapkan secara detail soal siswi tersebut. Namun, katanya, siswi tersebut tinggal di Jawa barat. Dimana siswi tersebut sampai diancam guru di sekolahnya, jika tetap ngotot tidak mengenakan hijab dia bakal diberi nilai jelek. 

“Tentu adalah hak seseorang untuk menganggap ada aturan Allah yang mewajibkan perempuan berjilbab. Namun yang disebut aturan berjilbab itu adalah sesuatu yang yang bisa diperdebatkan,” kata Ade dikutip Rabu (1/6/2022).

Baca Juga: Tegas! Kuasa Hukum Ade Armando: Proses Hukum Eddy Soeparno Berlanjut

Ade menjelaskan, di dalam Islam tidak ada peraturan yang dengan tegas mengatur para muslimah  untuk berhijab. Jadi menurutnya ketika seseorang memilih untuk tidak berhijab sebaiknya tidak dipersoalkan apalagi sampai melakukan pemaksaan.

“Jadi, sebenarnya berjilbab seharusnya menjadi pilihan yang bisa diikuti atau tidak. Karena itu, kewajiban berjilbab adalah yang tidak bisa diterima,” katanya lagi.

Ade melanjutkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan hijab kadang-kadang keliru karena dicekoki ajaran dari pemuka agama tertentu sehingga mereka menggap penggunaan hijab adalah peraturan yang mutlak diikuti semua muslimah.

“Atau yang lebih penting, mudah-mudahan umat Islam bisa terbuka kesadaran dan mata hatinya bahwa berjilbab adalah sebuah pilihan yang bisa diikuti atau tidak oleh semua perempuan tanpa harus dipaksa,” tuturnya.

Lebih jauh Ade mengatakan pemaksaan kehendak kepada perempuan untuk mengenakan hijab tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah seperti yang disebutkan tadi. Kasus model begini lanjut Ade masih banyak ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Dia mengaku menyayangkan hal tersebut.

“Dan yang lebih menyedihkan, yang mengalami penderitaan semacam ini bukan cuma dia sendirian. Ini terjadi di mana-mana di Indonesia,” tukasnya.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Populis. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Populis.

Editor: Rosmayanti

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan