Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Covid-19 Belum Usai, Korea Utara Laporkan Wabah Penyakit Lain, Kim Jong Un Mengirim...

Covid-19 Belum Usai, Korea Utara Laporkan Wabah Penyakit Lain, Kim Jong Un Mengirim... Kredit Foto: Reuters/Kyodo
Warta Ekonomi, Seoul -

Covid-19 belum usai, Korea Utara (Korut) sudah melaporkan wabah penyakit lain. Berita itu datang pada Kamis (16/6/2022), menyebut adanya epidemi penyakit usus tak dikenal yang menyebar di wilayah pertanian.

Laporan ini tak ayal memberi tekanan lebih lanjut untuk negara terisolasi itu, yang tak hanya harus merangi gelombang infeksi Covid-19, tetapi juga kekurangan makanan.

Baca Juga: Korea Utara Kelihatan Dilindungi China, Penasihat Joe Biden Bikin Peringatan Serius

Kantor berita KCNA mengungkap bahwa pada Rabu, Presiden Kim Jong-un mengirim obat-obatan ke kota pelabuhan barat Haeju.

Upaya ini, kata CNA, adalah demi membantu pasien yang menderita 'epidemi enterik akut'. Dalam rilis beritanya, KCNA tidak memberi rincian soal jumlah pasien yang terkena atau mengidentifikasi penyakit yang dimaksud. 

Namun, istilah enterik mengacu pada saluran pencernaan.

"(Pemimpin Kim Jong-un) telah menekankan perlunya menahan epidemi sedini mungkin dengan cara mengambil tindakan yang tepat untuk mengkarantina kasus yang dicurigai dan agar penyebarannya benar-benar dikekang," kata KCNA mengatakan bahwa kasus telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan epidemiologi dan tes ilmiah.

Seorang pejabat di Kementerian Unifikasi Korea Selatan (Korsel) yang menangani urusan antar-Korea, telah memberi komentarnya soal laporan tersebut.

Menurut sumber pejabat itu, pemerintah Korsel sedang memantau wabah tersebut, yang diduga kolera atau tipus.

Laporan wabah misterius datang di saat Korut menangani wabah pertama infeksi Covid-19. Bulan lalu, negara itu menyatakan keadaan darurat, di tengah kekhawatiran tentang kurangnya vaksin dan pasokan medis.

Badan mata-mata Korsel sempat mengatakan kepada anggota parlemen bahwa penyakit yang ditularkan melalui air, seperti tipus, sudah menyebar luas di Korut. Itu terjadi bahkan sebelum Pyongyang mengumumkan wabah virus corona di negaranya.

"Penyakit usus seperti tifus dan infeksi shigellosis bukanlah hal baru di Korut, tetapi yang meresahkan adalah penyakit itu datang pada saat negara tersebut berjuang dari Covid-19," terang profesor Shin Young-jeon dari Fakultas Kedokteran Universitas Hanyang, Seoul.

Korsel, bagaimanapun, bersedia bekerja sama dengan Korut untuk mengatasi wabah penyakit tersebut. Namun, tidak dengan Pyongyang, masih menolak menanggapi setiap tawaran untuk berdialog.

Penolakan termasuk atas proposal Seoul yang sebelumnya ingin menyediakan vaksin Covid, ungkap seorang pejabat lain di kementerian unifikasi.

Provinsi Hwanghae Selatan, di mana Haeju berada, menjadi wilayah pertanian utama Korut. Karenanya, laporan terbaru soal penyakit tak dikenal makin meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan dampak kekurangan pangan yang sudah parah di negara itu.

"Sementara kemungkinan infeksi menyebar melalui tanaman tampaknya rendah, kuncinya adalah mendisinfeksi sumber pasokan air karena penyakit tersebut kemungkinan besar ditularkan melalui air," kata Eom Joong-sik, ahli penyakit menular di Gachon University Gil Medical Center.

Saban hari, Pyongyang rajin mengumumkan jumlah orang demam. Namun, sejauh ini, Korut tidak menyebut mereka sebagai pasien Covid, dan ini tampaknya disebabkan oleh kurangnya alat tes di negara itu. 

Pada Kamis, Korut melaporkan tambahan hingga 26.010 kasus untuk orang dengan gejala demam. Angka ini membuat jumlah pasien demam meningkat, dengan keseluruhan kasus di seluruh negeri sejak April total mendekati 4,56 juta. Sementara korban tewas terkait wabah ini dilaporkan telah mencapai 73 orang.

Awal bulan ini, Korut mengaku bahwa gelombang Covid di negaranya telah menunjukkan tanda-tanda mereda. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia meragukan klaim tersebut. Badan PBB itu justru yakin situasinya semakin buruk. 

Para ahli juga menduga adanya keterbatasan laporan kasus, dan angka-angka yang dirilis melalui media Korut telah dikendalikan pemerintah. 

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Akurat. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Akurat.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan