Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Skema Ambisius Xi Jinping: China Uji Sistem Pencegat Rudal

Skema Ambisius Xi Jinping: China Uji Sistem Pencegat Rudal Kredit Foto: Reuters/Thomas Peter
Warta Ekonomi, Beijing -

China telah melakukan tes pencegat rudal berbasis darat yang "mencapai tujuan yang diharapkan", kata Kementerian Pertahanan, menggambarkannya sebagai pertahanan dan tidak ditujukan ke negara mana pun.

China telah meningkatkan penelitian ke semua jenis rudal, dari yang dapat menghancurkan satelit di luar angkasa hingga rudal balistik berujung nuklir, sebagai bagian dari skema modernisasi ambisius yang diawasi oleh Presiden Xi Jinping.

Baca Juga: Impor Minyak Mentah China dari Rusia Melonjak 55 Persen, Say Goodbye buat Arab Saudi

Beijing telah menguji pencegat rudal sebelumnya; pengumuman publik terbaru dari sebuah tes adalah pada Februari 2021, dan sebelum itu pada 2018. Media pemerintah mengatakan China telah melakukan tes sistem anti-rudal setidaknya sejak 2010.

Kementerian itu mengatakan dalam sebuah pernyataan singkat pada Minggu malam bahwa uji "teknologi pencegat rudal anti-rudal berbasis darat" telah dilakukan malam itu.

"Tes tersebut mencapai tujuan yang diharapkan. Tes ini bersifat defensif dan tidak ditujukan ke negara mana pun," kata kementerian itu, dilansir Reuters.

Kementerian itu tidak memberikan rincian lainnya.

China, bersama dengan sekutunya Rusia, telah berulang kali menyatakan penentangan terhadap penyebaran sistem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) AS di Korea Selatan.

China berpendapat radar kuat peralatan itu bisa menembus ke wilayahnya. China dan Rusia juga telah mengadakan simulasi latihan anti-rudal.

China telah memberikan sedikit rincian tentang program misilnya sendiri, selain dari pernyataan singkat sesekali oleh Kementerian Pertahanan atau di media pemerintah.

Pada 2016, Kementerian Pertahanan mengkonfirmasi bahwa pihaknya terus melakukan uji coba sistem anti-rudal setelah gambar-gambar muncul di televisi pemerintah.

Beijing mengatakan teknologi semacam itu diperlukan untuk pertahanan dan keamanan nasional.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan