Pasar Fintech Indonesia Tawarkan Peluang Bisnis Triliunan Rupiah
Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia menjanjikan peluang investasi yang besar tidak hanya bagi investor lokal tetapi juga bagi investor asing. Apalagi, baru-baru ini, pemerintah telah memperbarui regulasi untuk mendorong investasi yang lebih besar di industri fintech.
Untuk menilik lebih jauh peluang investasi di industry fintech Indonesia, Singapore Fintech Association dan Enterprise Singapore bersama Synthesis Communication Indonesia menggelar seminar bisnis dan networking bertajuk "Fintech: Fostering Cross Border Collaboration".
Acara tersebut dihadiri oleh 18 anggota SFA dan sejumlah Perusahaan Indonesia dari berbagai sub-sektor ekonomi digital. Acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari berbagai perusahaan fintech anggota Asosiasi Fintech Indonesia atau AFTECH.
Dalam sambutannya, Bambang Suwarso dari Kamar Dagang Indonesia menyoroti beberapa hal yang boleh dilakukan dan sebaiknya tidak dilakukan oleh perusahaan asing yang melakukan bisnis di Indonesia. Menurutnya hubungan antar karyawan sangat penting. Kita perlu memperhatikan bahwa terkadang saat kita tidak terlibat atau berdiskusi dengan baik dengan mereka, bisa saja mereka dibajak oleh competitor.
Alwin Jaberti, CEO TekenAja (VeriJelas) dan Wakil Sekretaris Jenderal AFTECH mencatat sektor Fintech Indonesia semakin matang dalam beberapa tahun terakhir. Lanskap fintech Indonesia didominasi oleh P2P lending, di mana nilai penyaluran pinjaman mencapai Rp44,3 triliun pada akhir Juni 2022, dibandingkan dengan Rp33,6 triliun pada Desember 2021.
Perusahaan pinjaman P2P telah berhasil memanfaatkan pasar yang belum terlayani oleh lembaga keuangan tradisional, terutama di Jawa. Karena pinjaman P2P terutama difokuskan di Jawa, ada potensi pertumbuhan yang sangat besar di pulau-pulau Indonesia lainnya.
“Sebelum tahun 2018, lanskap sektor fintech Indonesia sangat sederhana dengan hanya dua pembiayaan digital baik melalui P2P lending maupun melalui sistem pembayaran. Tapi setelah 2018, industry fintech berkembang pesat mulai dari pembayaran dan pinjaman digital, insurtech, wealth tech dan market provisioning,” kata Alwin, dalam keterangan media, Rabu (24/8/2022).
Asosiasi juga mendorong lebih banyak inisiatif untuk mewujudkan inklusi keuangan, termasuk bekerja sama dengan bank pembangunan daerah (BPD) untuk menyalurkan pinjaman modal kerja. Saat ini baru sekitar 7% dari total pinjaman BPD yang tersalurkan dengan baik. Meski demikian, masih ada sekitar 92% simpanan menganggur di BPD yang bisa disalurkan menjadi kredit produktif dengan menggandeng fintech crowdfunding.
Chief Operating Officer Singapore Fintech Association, Reuben Lim mengatakan, para anggota asosiasi yang hadir dalam acara ini sangat antusias untuk mengenal lanskap terbaru industri fintech di Indonesia beserta sub sektornya yang bisa dikolaborasikan. Mereka berasal dari berbagai sub sektor mulai dari pemain teknologi di ESG, pembayaran, securities crowdfunding, dan penyedia aset digital.
“Indonesia, seperti halnya Singapura, menurut saya sedang mengalami pertumbuhan eksponensial tidak hanya di segmen B2B tetapi juga di segmen B2C sebagaimana disampaikan para pembicara hari ini. Kami melihat ada peluang kolaborasi yang sangat kuat antara para pemain Fintech dari kedua negara,” kata Lim.
Menjawab pertanyaan tentang kategori terseksi di fintech, Alwin mengatakan kategori crowdfunding sekuritas sangat menarik saat ini. Pada dasarnya, securities crowdfunding adalah sekuritisasi proyek oleh UMKM yang dapat diikuti oleh investor ritel berdasarkan kriteria tertentu. Namun, perlu ada sosialisasi yang lebih besar dan struktur proyek yang lebih baik. Kategori lain yang mendapatkan traksi besar adalah penilaian kredit.
“Jadi saya kira penggunaan big data dan data alternatif akan semakin marak di Indonesia,” tambah Alwin.
Perbankan digital juga menawarkan peluang bisnis yang luar biasa bagi para pemain fintech. Bahkan saat ini semakin banyak bank tradisional seperti bank pembangunan daerah secara agresif bermitra dengan fintech karena mereka tidak perlu berinvestasi di belanja modal. Sebaliknya, fintech diuntungkan dengan kekuatan BPD dalam mengenali budaya dan kearifan local.
Dalam hal pemilihan partner yang tepat, Melisa Irene, partner East Ventures mengatakan bahwa banyak organisasi yang dapat membantu menjembatani kesenjangan antara kedua belah pihak.
Sebelum melakukan transaksi, penting bagi investor untuk memahami pihak lain sehingga mereka dapat melakukan percakapan. Juga, kita perlu menjangkau orang-orang yang dapat memperkenalkan kita, memberikan sudut pandang kita versi seseorang. Dia menambahkan bahwa pasar B2B khususnya menawarkan potensi besar mengingat sektor UKM Indonesia yang besar dan ketersediaan data yang lebih besar.
Senada, Dima Djan, CEO ALAMI mengatakan dalam kemitraan bisnis, kecocokan adalah prioritas utama. Pihaknya membutuhkan seseorang yang dapat memahami budaya yang berbeda dan yang sudah terbiasa dengan budaya Indonesia. Juga dari segi teknologi, Singapura cenderung memiliki pemahaman yang lebih dalam.
“Kami membutuhkan tim komunikasi yang dapat menembus celah dengan mitra potensial atau ketika kami mendekati pasar baru. Misalnya ketika kita memasuki pasar Bandung dan Jakarta, perusahaan dari dua kota ini akan memiliki ekspektasi yang sangat berbeda dalam hal kecepatan dan strategi eksekusi, ” tambah Dima.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: