Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Tak Perlu Khawatir Resesi Global, Investor Angkat Kaki dari Negara Maju Incar Negara Berkembang Macam Indonesia

Tak Perlu Khawatir Resesi Global, Investor Angkat Kaki dari Negara Maju Incar Negara Berkembang Macam Indonesia Kredit Foto: Unsplash/D koi
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai ancaman resesi di negara maju akan membuat investor memindahkan dananya ke negara-negara berkembang. 

Chief Economist & Investment Strategist MAMI, Katarina Setiawan mengungkapkan bila berbeda dengan pasar global. Di kawasan Asia justru terjadi perbaikan sentimen. Risiko resesi negara-negara di kawasan Asia juga lebih rendah.  Hal ini disebabkan oleh relatif rendahnya kenaikan suku bunga di kawasan pada tahun lalu dan inflasi pun relatif lebih terkendali. 

Selain itu, relaksasi kebijakan Zero Covid di China membawa dampak positif yang berantai bagi ekonomi Asia.  Nilai tukar mata uang negara-negara di Asia pun mulai tertopang dengan meredanya penguatan USD.

“Perbaikan sentimen di kawasan Asia justru mendorong terjadinya perpindahan investor dari kawasan yang sudah berkinerja unggul menuju kawasan yang dianggap telah jenuh jual (oversold).  Efeknya dirasakan di pasar saham Indonesia.  Arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia di sepanjang tahun 2022 tercatat sebesar USD4,4 miliar. Namun di akhir tahun lalu, dana asing terlihat bergerak keluar dari pasar saham Indonesia sebesar USD0,4 miliar (Q4 2022),” kata Katarina, Press Conference Market Outlook 2023: Seeds of Opportunity, di Jakarta, Selasa (17/1/2023).

Baca Juga: Miliarder Investor Ini Peringatkan Kondisi Pasar di Tahun 2023: Kebijakan yang Sangat Bodoh

Namun, secara umum, pembukaan kembali perekonomian China dapat berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia karena China merupakan mitra dagang utama dari Indonesia.

Berbicara mengenai pasar domestik, Katarina menjelaskan, proyeksi perlambatan ekonomi global dan berkurangnya besaran kenaikan Fed Rate akan mengurangi tekanan terhadap Rupiah pada tahun ini.

Meningkatnya likuiditas valas pada perbankan dalam negeri, seiring dengan naiknya tingkat suku bunga deposito valas, terutama untuk eksportir, turut menopang kenaikan cadangan devisa di bulan November 2022 dan pada akhirnya ikut menopang stabilitas Rupiah. Selain itu, pada tahun ini inflasi diperkirakan akan lebih terkendali seiring dengan normalisasi harga komoditas dan semakin meredanya lonjakan kenaikan harga akibat kenaikan harga BBM di 2022. 

“Dengan fundamental makro ekonomi Indonesia yang kuat dan imbal hasil obligasi Indonesia yang menarik, tentunya kedua hal ini akan ikut mendorong kuatnya arus masuk dana asing ke pasar obligasi Indonesia,” tambahnya. 

Baca Juga: Diuntungkan Pasar Domestik, Indonesia Tetap Harus Waspadai Perlambatan Ekspor

 Lebih lanjut Katarina mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih relatif stabil dan cukup jauh dari kemungkinan resesi yang mengancam kawasan negara maju. Ekonomi Indonesia masih ditopang oleh konsumsi domestik yang terjaga.

Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kenaikan UMR yang tinggi untuk tahun 2023 juga menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung daya beli konsumen di tahun depan. 

Selain itu, inflasi di Indonesia juga terjaga dengan relatif baik.  Di sepanjang tahun 2022, inflasi umum tercatat sebesar 5,51% YoY sedangkan inflasi inti stabil di kisaran 3,36% YoY.  Penyebab utama tren penurunan inflasi di Indonesia yaitu stabilitas harga pangan dan berkurangnya second round effect dari kenaikan harga BBM.

“Dalam jangka panjang, stabilitas eksternal Indonesia didukung oleh meningkatnya ekspor logam dasar dan maraknya penanaman modal pada sektor logam dasar serta pertambangan, yang sudah mulai terlihat sejak 2022.  Hal tersebut akan menopang neraca transaksi berjalan serta nilai tukar Rupiah lebih lagi ke depannya,” tutup Katarina. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: