Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Dirut Bank Syariah Indonesia: Perbankan Syariah Tunjukkan Tanda Tren yang Sangat Positif

Dirut Bank Syariah Indonesia: Perbankan Syariah Tunjukkan Tanda Tren yang Sangat Positif Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI, Hery Gunardi, mengatakan bahwa kondisi perbankan Syariah di Indonesia saat ini menunjukkan tren yang sangat positif. Hal ini dilihatnya dari pertumbuhan aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga.

"Kita bersyukur, di tengah kondisi pandemi dari 2 tahun lalu, hari ini [kondisi perbankan Syariah] sudah mulai membaik. Per Desember 2022 kemarin, aset perbankan Syariah tumbuh 15,63%; pembiayaan Syariah tumbuh 20,44%; dana pihak ketiga hampir 13%. Artinya, perbankan Syariah ini menunjukkan bahwa ada tanda-tanda tren yang sangat positif," ujarnya dalam acara Diskusi & Sinergi Literasi Keuangan Syariah bersama Board of Commissioners, Direksi PT Bank Syariah Indonesia Tbk., dan Pemimpin Redaksi Media Massa di Jakarta, Senin (3/4/2023).

Baca Juga: Demi Membawa Industri Lokal Mendunia, BSI Gulirkan Ekosistem Ekonomi Syariah Lewat Talenta Wirausaha

Hery menyampaikan bahwa tren positif perbankan Syariah adalah bukti BSI hadir dan melakukan banyak terobosan.

"Ini terbukti perbankan Syariah itu dimotori oleh Bank Syariah Indonesia. Pertumbuhan perbankan Syariah secara industri itu di-drive oleh pertumbuhan BSI. Nah, ini yang perlu kita syukuri. Dengan hadirnya BSI, banyak breakthrough dan juga mungkin karena sudah lama masyarakat menunggu ada sebuah bank Syariah yang besar lahir," paparnya.

Bos bank berkode BRIS ini juga menceritakan mengenai kondisi ekonomi global yang dihadang oleh risiko resesi. Akan tetapi, menurutnya, potensi ekonomi Indonesia mengalami resesi sangat kecil.

"Secara makroekonomi, saya rasa kalau global kita tahu ya resesi. Kemarin ada beberapa bank yang collapse di Amerika. Tentunya ini perlu kita waspadai, tapi ngga usah terlalu khawatir. Kita tetap melihat semua apa yang terjadi di kondisi global. Namun, menurut saya ngga sama lah kondisinya yang ada dengan di Indonesia. Kalau lihat kajian dari beberapa ekonom, potensi Indonesia mengalami resesi itu sangat kecil, hanya 2%-5%," ucap Hery Gunardi.

"Kenapa? Karena domestic demand kita yang memang sangat besar. Domestic demand yang sangat besar ini, saya rasa akan menjadi kekuatan bagi Indonesia untuk bisa bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu secara global," tambahnya.

Hery juga kemudian mengungkapkan mengenai market share perbankan Syariah di Indonesia yang masih jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia. Hal ini disebabkan model perbankan Syariah di Malaysia adalah kebijakan sharia first.

"Kita secara market share [perbankan Syariah] itu masih sangat kecil, baru 7%-an. Namun, Malaysia itu sekarang udah hampir 31% yang dikejar dalam waktu sekitar 12-13 tahun. Apa yang menarik dari ini? Malaysia itu modelnya sharia first. Makanya, mereka cepat sekali pertumbuhannya dibandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia," katanya.

Penulis: Putu Rusta Adijaya

Reportase: Muhamad Ihsan

Baca Juga: Kominfo Ajak Masyarakat Waspadai Jeratan Investasi dan Pinjol Ilegal, Begini Ciri-cirinya

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Advertisement

Bagikan Artikel: