Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Banyak Iklan Penipuan Kripto Beredar, Thailand Ancam Tutup Layanan Facebook

Banyak Iklan Penipuan Kripto Beredar, Thailand Ancam Tutup Layanan Facebook Kredit Foto: Indodax
Warta Ekonomi, Jakarta -

Thailand berencana menghentikan layanan Facebook jika platform tersebut tidak segera mengambil langkah-langkah untuk mengatasi iklan penipuan investasi dan kripto yang diduga muncul di platform Facebook.

Dilansir dari Cointelegraph, Selasa (22/8/2023), pada 21 Agustus, Kementerian Ekonomi Digital dan Masyarakat (MDES) Thailand menyatakan lebih dari 200.000 orang telah tertipu oleh iklan Facebook yang mempromosikan penipuan kripto, investasi di bisnis palsu, dan badan pemerintah yang dipalsukan seperti Komisi Sekuritas dan Bursa.

MDES mengklaim bahwa para penipu menggunakan taktik populer seperti penipuan investasi dan perdagangan kripto. Beberapa iklan juga diduga menggunakan gambar selebriti dan tokoh keuangan terkenal beserta janji keuntungan harian hingga 30% untuk menarik orang masuk ke dalam skema tersebut.

Baca Juga: Para Peretas Asal Korea Utara Berhasil Curi Rp30,5 Triliun Kripto Sejak 2018

Menteri MDES, Chaiwut Thanakamanusorn mengatakan bahwa kementeriannya telah melakukan pembicaraan dan mengirim surat kepada platform yang dimiliki Meta terkait masalah ini. Namun, platform tersebut dikabarkan gagal dalam memeriksa oknum yang memasang iklan tersebut. 

Kementerian saat ini sedang mengumpulkan bukti tentang iklan penipuan tersebut yang jumlahnya lebih dari 5.300—pada akhir bulan, dan mereka siap meminta pengadilan untuk menutup layanan Facebook dalam tujuh hari.

Kementerian juga memberi peringatan tentang bagaimana biasanya penipuan semacam itu beroperasi, dan konsumen sebaiknya berhati-hati terhadap janji keuntungan yang tinggi dan dijamin serta iklan yang menggunakan gambar tokoh terkenal.

Investasi yang memberikan tekanan atau insentif untuk segera berinvestasi dengan penawaran terbatas juga harus dihadapi dengan hati-hati, begitu juga dengan bisnis atau platform yang tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi.

Baca Juga: CoinGecko: Nambang Satu Bitcoin di Lebanon Lebih Murah 783 Kali Dibandingkan dengan Italia

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ni Ketut Cahya Deta Saraswati
Editor: Rosmayanti

Advertisement

Bagikan Artikel: