Kredit Foto: Istimewa
Ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat yang memuncak di awal tahun 2026 telah menempatkan pasar energi dunia dalam posisi waspada. Sebagai pemilik cadangan minyak terbukti terbesar di planet bumi, stabilitas Venezuela merupakan variabel krusial yang menentukan fluktuasi harga energi global, terutama pada sektor bahan bakar mesin diesel.
Berdasarkan data terbaru dari OPEC Annual Statistical Bulletin 2025 dan laporan Energy Information Administration (EIA) yang diperbarui pada Januari 2026, Venezuela memegang rekor cadangan minyak terbukti sebesar 303 miliar barel.
Baca Juga: IEW Ragukan Target Setop Impor Solar 2026, Soroti Defisit Minyak Mentah dan Risiko Monopoli
Angka ini mencakup sekitar 17 hingga 18 persen dari total cadangan dunia, melampaui Arab Saudi (267 miliar barel). Namun, keunggulan kuantitas ini dibarengi dengan kompleksitas teknis. Sebagian besar cadangan tersebut berada di Sabuk Orinoco dalam bentuk minyak mentah ekstra berat (extra-heavy crude).
Ketergantungan Kilang Global
Pentingnya minyak Venezuela bukan hanya soal volume, melainkan jenisnya. Analis senior dari Vanda Insights, Vandana Hari, dalam wawancara publik pada Minggu (4/1/2026), menjelaskan mengapa pasar sangat sensitif terhadap gangguan di Venezuela.
"Dunia mungkin bisa mencari pengganti volume minyak secara umum, tetapi sangat sulit mengganti jenis minyak berat (heavy-sour) milik Venezuela. Kilang-kilang kompleks di Pesisir Teluk AS dan Asia membutuhkan jenis ini untuk memproduksi solar secara efisien. Jika pasokan ini hilang, premi risiko pada harga minyak akan melonjak," ujar Vandana Hari dalam keterangan yang dikutip melalui Business Today.
Realitas Produksi dan Kendali Sanksi
Meskipun memiliki cadangan raksasa, realitas produksi Venezuela masih jauh di bawah kapasitas puncaknya. Hingga Januari 2026, produksi harian Venezuela tercatat berada di kisaran 950.000 hingga 1,02 juta barel per hari (bpd).
Menteri Minyak Venezuela, Pedro Tellechea, dalam pernyataan publik di Caracas pada Jumat (2/1/2026), menekankan bahwa Venezuela siap meningkatkan kapasitas jika tekanan politik dihilangkan.
"Venezuela tetap menjadi pilar stabilitas energi. Kami memiliki infrastruktur yang sedang direhabilitasi, dan tujuan kami adalah mengembalikan hak bangsa ini untuk berpartisipasi dalam pasar tanpa hambatan ilegal," tegas Tellechea seperti dilaporkan oleh AFP.
Di sisi lain, Washington tetap menggunakan instrumen ekonomi sebagai daya tawar. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, dalam konferensi pers di Washington pada Selasa (30/12/2025), menyatakan posisi tegas AS.
"Pembaruan lisensi operasional untuk sektor energi Venezuela sepenuhnya bergantung pada pemenuhan komitmen demokrasi. Tanpa itu, sanksi penuh akan kembali diberlakukan untuk membatasi pendapatan rezim," kata Miller sebagaimana tercatat dalam transpir resmi Departemen Luar Negeri AS dan dilansir Reuters.
Dampak bagi Ketahanan Energi
Bagi negara seperti Indonesia, gejolak ini menjadi alarm bagi biaya logistik nasional. Kenaikan harga minyak mentah berat secara global akan langsung berdampak pada harga Mean of Platts Singapore (MOPS) untuk solar, yang merupakan komponen utama subsidi energi dalam APBN.
Pertarungan di Venezuela saat ini bukan sekadar urusan domestik Caracas, melainkan perebutan kendali atas instrumen ekonomi yang mampu menggetarkan meja perdagangan dari New York hingga Singapura.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement