Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perebutan Cadangan Minyak Terbesar Dunia dalam Operasi 'Absolute Resolve' di Venezuela

Perebutan Cadangan Minyak Terbesar Dunia dalam Operasi 'Absolute Resolve' di Venezuela Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Langit Caracas yang biasanya tenang pada awal tahun, berubah menjadi panggung kekuatan militer yang mencekam. Sabtu (3/1/2026) dini hari, serangkaian ledakan mengguncang ibu kota Venezuela menyusul operasi militer Amerika Serikat yang diperintahkan langsung oleh Presiden Donald Trump. Di balik narasi "perburuan narco-terorisme", penguasaan cadangan minyak terbesar di dunia menjadi inti dari pusaran konflik ini.

Ketegangan mencapai puncaknya setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pasukan khusus AS telah melakukan operasi yang berujung pada penangkapan Nicolás Maduro. Trump menyatakan langkah ini diambil untuk mengakhiri "rezim ilegal" dan memulihkan keamanan regional.

Baca Juga: Trump Ancam Kembali Lakukan Serangan ke Iran

Pemerintah Venezuela segera merespons dengan mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai invasi kolonial. Menteri Luar Negeri Venezuela, Yván Gil, dalam pernyataan resminya pada Sabtu (3/1/2026) sore, menegaskan bahwa agresi tersebut adalah upaya terang-terangan untuk merampok sumber daya strategis negara.

"Republik Bolivarian Venezuela menolak dan mengadukan kepada komunitas internasional agresi militer yang sangat serius ini. Tujuan utama serangan Amerika Serikat adalah merebut sumber daya strategis kami, terutama minyak dan mineral," ujar Gil sebagaimana dilansir AFP.

Penguasaan atas sektor energi bukan lagi sekadar spekulasi. Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada Sabtu (3/1/2026), Presiden Donald Trump secara eksplisit menyatakan niat Washington untuk melibatkan perusahaan minyak raksasa AS dalam membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang rusak.

"Kami akan mengerahkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar—yang terbesar di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang hancur, dan mulai menghasilkan uang bagi negara tersebut," kata Trump dalam konferensi pers yang disiarkan oleh CTV News dan The Guardian. Ia juga menambahkan bahwa AS akan mengelola proses ini selama masa transisi kekuasaan.

Meskipun demikian, Trump menekankan bahwa embargo minyak terhadap Venezuela tetap berlaku penuh hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Eskalasi militer ini langsung memicu guncangan di pasar komoditas global. Analis energi senior, seperti yang dilaporkan Bloomberg dan Argus Media, mencatat bahwa pasar kini berada dalam mode waspada tinggi terhadap gangguan pasokan jangka panjang.

Harga minyak mentah dunia merangkak naik karena kekhawatiran akan stabilitas di kawasan Amerika Latin. Terlebih, AS sebelumnya telah memperketat sanksi pada Jumat (2/1/2026) terhadap perusahaan-perusahaan di Hong Kong dan China yang dituduh membantu penyelundupan minyak Venezuela melalui "armada bayangan".

Serangan yang menyasar fasilitas militer seperti Pangkalan Udara La Carlota dan kompleks Fuerte Tiuna memicu kepanikan massal. Carmen Hidalgo (21), seorang warga Caracas, menggambarkan suasana mencekam saat ledakan terjadi pukul 02.00 waktu setempat.

"Seluruh daratan bergetar. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan suara pesawat terbang rendah," tutur Hidalgo kepada AFP pada Sabtu (3/1/2026).

Baca Juga: IEW Ragukan Target Setop Impor Solar 2026, Soroti Defisit Minyak Mentah dan Risiko Monopoli

Hingga saat ini, komunitas internasional terbelah. Sementara Washington mengklaim langkah ini sebagai pembebasan, negara-negara seperti China dan Rusia mengkritik penggunaan kekuatan militer yang melanggar Piagam PBB.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: