Kredit Foto: Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan Indonesia resmi mencapai swasembada beras pada akhir 2025. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam Taklimat Awal Tahun di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).
Prabowo mengungkapkan bahwa tepat pada 31 Desember 2025 pukul 24.00 WIB, pemerintah secara resmi dapat menyatakan swasembada beras. Ia juga menyampaikan kebanggaannya atas capaian cadangan beras nasional yang saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia.
“Alhamdulillah, 31 Desember 2025, pukul 24.00, kita dengan resmi mengatakan Republik Indonesia swasembada beras. Hari ini cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah lebih dari 3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” ujar Prabowo.
Presiden membandingkan capaian tersebut dengan periode sebelumnya, di mana cadangan beras tertinggi di masa lalu tercatat sekitar 2 juta ton. Menurutnya, capaian lebih dari 3 juta ton merupakan hasil kerja keras seluruh unsur pemerintahan dan pelaku sektor pangan nasional.
Baca Juga: Presiden Prabowo Apresiasi Kerja Keras Kabinet di Awal 2026
Selain swasembada beras, Prabowo juga menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan sejak awal pemerintahannya. Ia menjelaskan bahwa program tersebut dilandasi kondisi gizi anak Indonesia yang masih memprihatinkan, dengan sekitar 20 persen anak mengalami kekurangan gizi, bahkan di sejumlah daerah mencapai lebih dari 30 persen
“Puluhan juta anak-anak Indonesia berangkat sekolah tanpa makan pagi. Banyak yang makan hanya nasi dengan daun-daunan. Itu yang menjadi pertimbangan utama kita mencanangkan program makan bergizi gratis,” kata Prabowo.
Prabowo mengungkapkan, hingga 6 Januari 2026, program MBG telah menjangkau 55 juta penerima manfaat, termasuk anak-anak sekolah dan ibu hamil. Angka tersebut, menurutnya, dicapai dalam waktu sekitar satu tahun sejak program diluncurkan.
“Hari ini dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat. Negara seperti Brasil membutuhkan 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat. Kita satu tahun mencapai 55 juta,” ujarnya.
Presiden mengakui bahwa dalam pelaksanaan program berskala besar, kekurangan dan penyimpangan tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, ia menilai secara objektif capaian program MBG menunjukkan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.
“Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan dan penyimpangan. Tapi kalau kita pelajari dengan objektif, secara statistik boleh dikatakan kita 99,99 persen berhasil,” tegas Prabowo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait:
Advertisement