Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

DBS Ramal IHSG Menguat, Tapi Tak Sentuh Target Purbaya yang Sampai 10.000

DBS Ramal IHSG Menguat, Tapi Tak Sentuh Target Purbaya yang Sampai 10.000 Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

DBS Bank memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sepanjang 2026, namun belum akan menembus level 10.000 seperti yang ditargetkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Senior Investment Strategist DBS Bank, Joanne Goh, menargetkan IHSG bergerak di kisaran 9.800 seiring dukungan siklus komoditas yang masih positif dan kebijakan fiskal pemerintah. 

Joanne menjelaskan, prospek IHSG ditopang oleh kondisi komoditas global yang dinilai tetap kuat di tengah dinamika geopolitik dan isu keamanan strategis. Situasi tersebut dinilai menguntungkan Indonesia sebagai negara dengan basis sumber daya alam yang besar, sehingga menopang kinerja ekonomi dan pasar keuangan domestik.

“Jadi sejak tahun lalu adalah tahun yang kuat jadi kita berpikir lebih stabil harus membawa lingkungan yang lebih kuat untuk Indonesia,” ujar Joanne, dalam agenda DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights bertajuk “The Long Game”, Senin (10/1/2026).

Baca Juga: Purbaya Optimis IHSG Tembus 10.000, Ini Tanggapan OJK

Selain faktor komoditas, DBS menilai kebijakan fiskal pemerintah menjadi pendorong utama pergerakan pasar saham pada 2026. Peningkatan belanja negara diperkirakan berlanjut, termasuk untuk program-program prioritas yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan konsumsi domestik.

“Jadi, jika Anda melihat lebih banyak pembelanjaan pada pendidikan, lebih banyak pembelanjaan pada fasilitas sosial, Anda seharusnya melihat bahwa pasar ekuitas berjalan dengan baik,” kata Joanne.

DBS menilai pelonggaran kebijakan fiskal tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi sejumlah sektor di pasar modal. Sektor perbankan diperkirakan diuntungkan oleh peningkatan aktivitas ekonomi dan permintaan kredit. Sementara itu, sektor konsumsi, telekomunikasi, dan infrastruktur dinilai berpeluang menerima manfaat dari peningkatan belanja pemerintah dan program sosial.

Baca Juga: IHSG Melonjak, Bos OJK Heran Saham Big Caps Malah Lesu

Di sisi lain, DBS juga menyoroti sejumlah faktor risiko yang perlu dicermati pelaku pasar. Risiko tersebut antara lain potensi kenaikan imbal hasil obligasi global serta volatilitas nilai tukar rupiah yang dapat memengaruhi arus modal asing dan sentimen investor.

Meski demikian, Joanne menilai risiko pelemahan rupiah pada 2026 relatif terbatas. Menurutnya, stabilitas makroekonomi Indonesia saat ini berada pada kondisi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor tersebut turut diperkuat oleh perubahan kebijakan fiskal dan koordinasi ekonomi pemerintah, termasuk setelah pergantian Menteri Keuangan pada akhir tahun lalu.

“Jadi, kita harus melihat bahwa tahun ini dengan rupiah yang sudah turun hingga Rp16.000, kita pikir ada penurunan yang relatif lebih rendah untuk rupiah. Jadi dari sisi makro, kami pikir stabilitas akan mendorong pertumbuhan agar tetap menjadi fokus. Jadi 9.800 untuk JCI tahun ini,” tuturnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: