Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Melonjak, Bos OJK Heran Saham Big Caps Malah Lesu

IHSG Melonjak, Bos OJK Heran Saham Big Caps Malah Lesu Kredit Foto: Antara/Media Center KTT ASEAN 2023/Zabur Karuru
Warta Ekonomi, Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti ketimpangan kinerja antara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks LQ45 yang dinilai mencerminkan belum optimalnya peran saham unggulan sebagai penopang utama pasar modal Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mencatat IHSG menutup perdagangan 2025 di level 8.646,94 atau menguat 22,13 persen secara tahunan. Namun, penguatan indeks utama tersebut tidak diikuti oleh kinerja saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam LQ45.

“Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41 persen, jauh di bawah kenaikan IHSG,” ujar Mahendra, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Mahendra menjelaskan, perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa reli IHSG sepanjang 2025 tidak bertumpu pada saham-saham unggulan. Padahal, LQ45 selama ini dipersepsikan sebagai cerminan kualitas emiten, likuiditas, serta stabilitas kinerja yang menjadi acuan utama investor institusional.

Baca Juga: Meski Pasar Modal Tumbuh, OJK Ungkap PR Besar di 2026

Menurutnya, kondisi ini mengindikasikan masih besarnya ruang pembenahan di pasar modal, khususnya dalam meningkatkan kualitas saham unggulan agar kembali berperan sebagai penopang utama indeks. Penguatan ekosistem pasar yang berkelanjutan dinilai menjadi prasyarat untuk mengoptimalkan potensi pertumbuhan tersebut.

Di sisi makro, OJK mencatat kontribusi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia meningkat dari 56 persen pada akhir 2024 menjadi 72 persen pada akhir 2025. Meski mengalami lonjakan signifikan, rasio tersebut masih tertinggal dibandingkan negara kawasan seperti India yang mencapai 140 persen, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen dari PDB masing-masing.

“Angka ini masih menunjukkan potensi pengembangan yang lebih besar,” kata Mahendra.

Baca Juga: Bursa Karbon Sepi, OJK Ungkap Nilai Transaksi Hanya Rp80,75 Miliar

OJK juga mengaitkan kinerja LQ45 dengan perubahan struktur investor di pasar saham nasional. Sepanjang 2025, porsi transaksi investor ritel meningkat dari 38 persen menjadi 50 persen. Dominasi ritel yang tinggi dinilai turut memengaruhi pola pergerakan saham, termasuk pada saham-saham unggulan.

Mahendra mengingatkan, kondisi tersebut meningkatkan urgensi penguatan perlindungan investor, terutama dari praktik transaksi tidak wajar dan manipulasi harga. OJK mencatat sekitar 70 persen investor ritel berasal dari generasi Z dan Y yang cenderung memandang pasar saham sebagai sarana transaksi jangka pendek, bukan investasi jangka menengah dan panjang.

Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyatakan penguatan kualitas pasar modal, termasuk saham-saham unggulan, menjadi bagian dari agenda pengembangan jangka menengah BEI melalui masterplan2026–2030.

“Kami berharap pasar modal Indonesia dapat masuk ke dalam top 10 pasar modal dunia dalam hal kapitalisasi pasar atau nilai transaksi, sekaligus memberi manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional,” ujar Iman.

BEI menargetkan pada 2026 penambahan dua juta investor baru, rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp15 triliun, serta total 555 pencatatan efek, termasuk 50 emiten baru melalui initial public offering (IPO). Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat basis investor institusi dan meningkatkan kualitas saham yang menjadi konstituen indeks unggulan seperti LQ45.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: