Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AI dan Belanja Militer Ubah Lanskap Investasi Global

AI dan Belanja Militer Ubah Lanskap Investasi Global Kredit Foto: DBS
Warta Ekonomi, Jakarta -

DBS menilai gelombang investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan peningkatan belanja pertahanan global menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan perdagangan dunia. 

Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook menyampaikan bahwa dua sektor tersebut kini memimpin momentum investasi global dan menopang aktivitas ekonomi jangka menengah hingga panjang, meski tekanan ekonomi global masih berlangsung. 

“Kecerdasan buatan dan pengeluaran pertahanan memimpin tren ini,” ujar Hou, Selasa (13/1/2026).

Baca Juga: AI Ubah Arah Strategi Investasi Modal Ventura?

Ia menjelaskan, dari sisi teknologi, perusahaan hyperscalers diperkirakan akan mengalokasikan dana sekitar USD 1,4 triliun untuk pembangunan infrastruktur AI dalam periode 2025–2027. Investasi tersebut mencakup pusat data, komputasi awan, dan pengembangan ekosistem pendukung AI.

Sementara itu, dari sisi geopolitik dan keamanan, belanja pertahanan global diproyeksikan meningkat signifikan. Hou menyebutkan anggaran pertahanan negara-negara NATO diperkirakan naik dari sekitar 2% menjadi 5% terhadap produk domestik bruto pada 2035.

Menurutnya, skala belanja tersebut mencerminkan perubahan struktural yang berpotensi mendefinisikan ulang lanskap industri dan teknologi global. Komitmen investasi dalam AI dan pertahanan dinilai memberikan dukungan jangka panjang terhadap aktivitas ekonomi, meskipun berlangsung di tengah tekanan perlambatan perdagangan dunia.

Hou menilai, dorongan belanja besar pada kedua sektor tersebut menciptakan sumber pertumbuhan alternatif ketika ekspor dan perdagangan global kehilangan momentum.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa lonjakan investasi, khususnya di sektor AI, juga membawa risiko yang perlu dicermati investor.

“Lonjakan AI memperlihatkan ciri-ciri pasar yang euforia, termasuk valuasi tinggi, risiko konsentrasi, dan antusiasme spekulatif,” katanya.

Baca Juga: Lebih dari Asisten, Orang Indonesia juga jadikan AI Tempat Curhat saat Mereka Sedih

Hou menambahkan, salah satu risiko yang perlu diawasi adalah praktik circular financing, yakni kondisi ketika perusahaan saling mendorong ekspansi dan pembiayaan secara berulang dalam ekosistem yang sama. Menurutnya, pola tersebut berpotensi menimbulkan kerentanan sistemik apabila tidak diimbangi fundamental yang kuat.

Ia menegaskan bahwa meskipun AI dan belanja pertahanan menjadi penggerak utama investasi global saat ini, investor tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan, struktur pendanaan, serta potensi risiko di balik lonjakan belanja modal tersebut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: