Lonjakan ISPA di Musim Hujan Tekan Produktivitas, Kualitas Udara Rumah Jadi Perhatian Dunia Usaha
Kredit Foto: Istimewa
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang 2025 dan mulai menimbulkan implikasi ekonomi, terutama pada beban layanan kesehatan dan produktivitas masyarakat perkotaan.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia per November 2025 mencatat lebih dari 3,2 juta kasus ISPA secara nasional, meningkat sekitar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan kasus paling terasa di kota-kota dengan kepadatan tinggi seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Di Jakarta, data Dinas Kesehatan DKI menunjukkan beban kasus ISPA sepanjang 2025 mencapai sekitar 2,5 juta kunjungan layanan kesehatan, atau hampir 80 persen dari total kasus nasional.
Anak usia sekolah menyumbang lebih dari 40 persen pasien, yang berpotensi berdampak pada tingkat kehadiran sekolah serta produktivitas orang tua di sektor formal dan informal.
Menurut ahli pulmonologi RSUP Persahabatan, Dr. Rina Yulianti, peningkatan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor cuaca dan kualitas udara.
Kelembapan tinggi pada musim hujan dinilai meningkatkan daya tahan patogen di udara, sementara paparan partikel halus tetap menjadi pemicu utama ISPA di wilayah urban. Kondisi ini terjadi meskipun musim hujan kerap diasosiasikan dengan penurunan polusi.
Pemantauan kualitas udara oleh IQAir dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan konsentrasi PM2,5 di Jakarta masih berada di kisaran 30–45 µg/m³ selama musim hujan, jauh di atas ambang batas aman harian yang ditetapkan World Health Organization sebesar 15 µg/m³.
Partikel halus ini dapat bertahan di udara, masuk ke dalam rumah, dan terhirup tanpa disadari, sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan sekaligus biaya kesehatan.
WHO juga menegaskan bahwa paparan PM2,5 dalam ruangan di atas 25 µg/m³ berkaitan langsung dengan peningkatan risiko ISPA.
Dalam konteks ini, pengelolaan kualitas udara di dalam rumah menjadi langkah preventif yang bernilai ekonomi, khususnya bagi masyarakat perkotaan yang menghadapi tekanan biaya kesehatan dan tuntutan produktivitas.
Baca Juga: Masuk Fase Pemulihan Pascabencana, BNI Hadirkan Posko Kesehatan
Salah satu solusi yang mulai banyak dipertimbangkan adalah penggunaan air purifier. Levoit Core 300s hadir sebagai smart air purifier yang dirancang untuk menyaring 99,97 persen partikel berbahaya hingga ukuran 0,3 mikron, termasuk PM2,5, debu halus, alergen, dan polutan udara, melalui sistem filtrasi tiga tahap yang terdiri dari Pre-Filter, True HEPA H13, dan Filter Karbon Aktif Efisiensi Tinggi.
Dengan CADR 258 m³/jam dan cakupan area hingga 54 meter persegi, perangkat ini efektif digunakan di ruang keluarga maupun kamar tidur, dilengkapi pemantauan kualitas udara secara real-time, konsumsi daya yang efisien sebesar 39 watt, serta kendali pintar melalui aplikasi.
Didukung garansi resmi dua tahun, jaringan service center di lebih dari 30 kota, serta puluhan sertifikasi internasional, solusi pengelolaan udara dalam ruangan kian relevan sebagai langkah preventif jangka panjang.
Di tengah tingginya kasus ISPA dan kualitas udara perkotaan yang masih menjadi tantangan, bahkan pada musim hujan, investasi pada udara bersih di rumah mulai dipandang sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan sekaligus efisiensi ekonomi rumah tangga dan dunia usaha.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait:
Advertisement