Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wamen LH Sebut yang Tak Pernah Tanam Pohon Bukan Manusia

Wamen LH Sebut yang Tak Pernah Tanam Pohon Bukan Manusia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menegaskan menanam pohon merupakan hal yang krusial untuk menjaga lingkungan hidup.

Menurutnya setiap orang harus melakukan penanaman pohon, minimal satu kali guna membantu menjaga oksigen untuk keberlangsungan hidup manusia. 

Baca Juga: Menkop Ungkap Kerugian Sejumlah Koperasi yang Terdampak Bencana

Ini disampaikannya saat mengapresiasi langkah nyata Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo, yang menggerakkan Gerakan Kristen Indonesia Raya (GEKIRA) dan masyarakat untuk menanam satu juta bibit pohon di Kompleks Perkampungan Pemuda HKBP Jetun Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Ia memaparkan bahwa satu orang manusia membutuhkan sekitar 0,5 kilogram oksigen per hari, sementara satu pohon mampu memproduksi hingga 1,2 kilogram oksigen setiap harinya. Rasio ini menunjukkan betapa bergantungnya eksistensi manusia pada kelestarian flora.

“Terima kasih atas inisiatifnya, Pak Hashim. Tadi pagi kita sudah menanam satu juta pohon, ini jangan dianggap sepele. Kita harus hidup berdampingan dengan pohon dan idealnya setiap orang menanam setidaknya satu pohon. Karena oksigen adalah kebutuhan dasar manusia, maka kalau ada yang tidak pernah menanam pohon, itu bukan manusia,” tegas Wamen LH, dikutip dari siaran pers Kementerian LH, Rabu (14/1).

Krisis iklim yang ditandai dengan berbagai anomali fenomena alam menjadi latar belakang urgensi aksi reboisasi ini. 

Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim dan Transisi Energi, Hashim Djojohadikusumo, memaparkan fakta pahit bahwa Indonesia kerap menjadi korban dari dampak perubahan iklim yang penyebab utamanya justru berasal dari negara-negara maju. 

Hashim menjelaskan adanya ketimpangan emisi karbon yang mencolok; rata-rata warga Indonesia menghasilkan 3 ton emisi per tahun, sementara warga di negara maju dapat menghasilkan hingga 13 ton emisi per tahun per jiwa.

“Seperti yang disampaikan Wamen LH, perubahan iklim tidak bisa ditanggapi dalam waktu dekat. Karena penyebab perubahan iklim terjadi di belahan bumi lain. Ini fakta yang pahit bagi Indonesia,” jelas Hashim Djojohadikusumo.

Aksi penanaman pohon di Tapanuli Utara ini juga menjadi langkah strategis mitigasi bencana hidrometeorologi. 

Sebagai wilayah hulu dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, Tapanuli Utara memegang peranan kunci dalam mencegah banjir dan tanah longsor yang pada November lalu telah merenggut lebih dari 1.000 korban jiwa. 

Kerusakan ekosistem ini diperparah oleh data yang menunjukkan penyusutan tutupan hutan di Sumatera Utara sebesar 19,5 ribu hektar dalam 15 tahun terakhir, di mana luasan hutan yang semula mencapai 151 ribu hektar pada 2009 kini hanya tersisa 131 ribu hektar pada 2024.

Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, yang hadir dalam acara tersebut, mengakui bahwa rentetan bencana di wilayahnya merupakan konsekuensi dari penggundulan hutan akibat ulah manusia. 

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi menjaga kelestarian alam demi keamanan generasi mendatang. 

Senada dengan itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki yang turut serta dalam penanaman tersebut, menekankan pentingnya menjaga fungsi hidrologis hutan Sumatera guna mendukung kedaulatan pangan dan kelestarian ekosistem nasional secara berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Advertisement

Bagikan Artikel: