Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan memicu volatilitas pasar saham global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kondisi ini berpotensi mendorong IHSG mengalami koreksi wajar serta memasuki fase bearish consolidation dalam jangka pendek.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan dalam situasi tersebut pelaku pasar perlu mulai mencermati saham-saham sektor energi dan logam dasar. Kedua sektor tersebut dinilai berpeluang memperoleh sentimen positif seiring potensi lonjakan harga minyak, logam, serta komoditas tambang lainnya.
“Tadi kalau energi pasti berkaitan dengan migas, lalu kalau untuk basic tadi kan selain emas dan perak, bisa fokus ke emiten-emiten logam dasar lainnya,” ujar Nafan kepada Warta Ekonomi, Minggu (1/3/2026).
Menurut Nafan, sejumlah saham emiten berpotensi diuntungkan dan menarik untuk dicermati di tengah memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran. Emiten tersebut antara lain PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Aneka Tambang Tbk(ANTM).
Berdasarkan hasil analisanya, ADRO tengah mengembangkan smelter aluminium berkapasitas 500 ribu ton per tahun, serta proyek energi terbarukan seperti baterai dan solar farm yang memiliki potensi pendapatan dari ekspor listrik. Langkah ini dinilai menjadi basis diversifikasi pendapatan di luar segmen batu bara tradisional.
Saat ini, saham ADRO diperdagangkan dengan price to earnings ratio (P/E) relatif rendah di kisaran 7,4 kali, serta dividend yield sekitar 7,03 persen. Kondisi tersebut dinilai menarik bagi investor dengan orientasi pendapatan dan value investing.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Terancam Tembus Rp17.000 dan Beban Subsidi BBM Membengkak
Baca Juga: Perang Israel-Iran Pecah, Emas Diproyeksi Cetak Rekor Baru
Sementara itu, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) merupakan salah satu produsen hard coking coal (HCC) utama di Indonesia. Harga batu bara metalurgi global masih bertahan di level tinggi, yakni sekitar US$210–250 per ton, seiring kuatnya permintaan baja di India dan Asia Tenggara.
Di sisi lain, terbatasnya pasokan dari Australia dan Rusia memberikan ruang bagi ADMR untuk menjaga margin laba tetap solid sepanjang tahun buku 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Disclaimer: Keputusan untuk melakukan aksi jual atau beli saham sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala risiko kerugian dari setiap keputusan investasi yang diambil menjadi tanggung jawab pembaca.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri