Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BI Tahan Suku Bunga 4,75% demi Jaga Rupiah

BI Tahan Suku Bunga 4,75% demi Jaga Rupiah Kredit Foto: BI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada Januari 2026. Keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, penahanan suku bunga acuan tersebut sejalan dengan fokus kebijakan moneter saat ini yang diarahkan pada stabilisasi nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal.

“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026–2027,” kata Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga: Tok! BI Tahan BI Rate di level 4,75%

Perry menjelaskan, BI Rate telah diturunkan secara kumulatif sebesar 150 basis poin (bps) sejak September 2024. Penurunan tersebut terdiri dari pemangkasan 25 bps pada September 2024 dan 125 bps sepanjang 2025, sehingga suku bunga acuan berada di level 4,75% hingga Desember 2025. Level tersebut menjadi yang terendah sejak 2022.

Menurut Perry, ruang pelonggaran kebijakan moneter tetap terbuka, namun perlu ditempuh secara hati-hati dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar dan perkembangan global. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh.

Selain kebijakan moneter, BI juga terus mengoptimalkan bauran kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Salah satu instrumen yang diperkuat adalah Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong penurunan suku bunga perbankan dan meningkatkan pertumbuhan kredit serta pembiayaan ke sektor riil.

“Kebijakan makroprudensial tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth), termasuk melalui peningkatan efektivitas KLM,” ujar Perry.

Baca Juga: Kredit Perbankan 2025 Tumbuh 9,69%, Sesuai Target BI

BI juga tetap mencermati ruang penurunan suku bunga lanjutan dengan mempertimbangkan prakiraan inflasi 2026–2027 yang diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1%.

Di sisi sistem pembayaran, BI melanjutkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran nasional.

“Arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk tetap mempertahankan stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: