- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Kebijakan Tarif Trump Dinilai Gagal, Picu Inflasi AS dan Tekan Ekonomi Global
Kredit Foto: Istimewa
Kebijakan tarif perdagangan yang kembali digaungkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai tidak efektif dalam mengembalikan basis manufaktur ke AS.
Sebaliknya, kebijakan tersebut justru mendorong inflasi tetap tinggi dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global, termasuk pasar negara berkembang.
Praktisi pasar modal, Hans Kwee, mengatakan kebijakan tarif AS dilatarbelakangi dua persoalan utama, yakni defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran.
Trump meyakini tarif impor dapat meningkatkan penerimaan negara sekaligus memaksa perusahaan global memindahkan produksi ke dalam negeri.
“Pemikirannya, kalau barang dikenakan tarif tinggi, perusahaan akan memindahkan pabriknya kembali ke Amerika. Tapi kenyataannya itu tidak terjadi,” ujar Hans, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Tetap Menguat di Tengah Volatilitas Tinggi Akibat Geopolitik Global
Menurut Hans, banyak perusahaan menolak relokasi karena biaya tenaga kerja di AS jauh lebih mahal dan kebutuhan investasi teknologi sangat tinggi.
Bahkan, sejumlah produk berteknologi tinggi seperti iPhone dinilai tidak mungkin diproduksi di AS dengan tingkat presisi dan efisiensi seperti di Asia.
Dampak kebijakan tarif tersebut terlihat dalam jangka pendek melalui inflasi AS yang bertahan di level tinggi akibat kenaikan harga barang impor. Beban tarif, kata Hans, sebagian besar diteruskan ke konsumen, sehingga tekanan inflasi sulit turun ke target bank sentral.
Baca Juga: Dolar AS Melemah Setelah Trump Batalkan Ancaman Tarif Soal Greenland
Selain itu, kebijakan tarif juga berpotensi melemahkan pasar tenaga kerja AS dan memicu limpahan barang dari negara-negara seperti Tiongkok dan Vietnam ke pasar negara lain. Kondisi ini meningkatkan risiko proteksionisme dan memperbesar peluang terjadinya perang dagang lanjutan.
Dalam jangka menengah hingga panjang, Hans menilai perdagangan global akan melambat dan pertumbuhan ekonomi dunia berisiko tertekan.
Ia mencontohkan dampak Brexit terhadap Inggris sebagai gambaran bagaimana kebijakan proteksionis dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi jangka panjang.
“Kebijakan tarif Amerika ini dampaknya tidak langsung terasa, tapi dalam jangka panjang justru bisa memukul ekonomi AS sendiri dan memperlambat ekonomi global,” ujarnya.
Hans menambahkan, ketidakpastian kebijakan perdagangan AS menjadi salah satu faktor utama yang terus membayangi pasar keuangan global dan mendorong volatilitas di pasar saham internasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Advertisement