Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dolar AS Melemah Setelah Trump Batalkan Ancaman Tarif Soal Greenland

Dolar AS Melemah Setelah Trump Batalkan Ancaman Tarif Soal Greenland Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Kamis (22/1). Presiden AS Donald Trump menarik ancaman tarif terhadap negara sekutu dan menegaskan tidak akan merebut Greenland dengan kekuatan militer.

Dilansir dari Reuters, Jumat (23/1), Indeks dolar (DXY) terakhir turun 0,45% ke 98,35. Pelemahan terjadi meskipun data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) terbaru menunjukkan belanja konsumen AS tetap solid, menjaga perekonomian pada jalur pertumbuhan kuat untuk kuartal ketiga berturut-turut.

Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Baru, Didorong Geopolitik dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan belanja konsumen naik 0,5% pada November. Data tersebut mengindikasikan daya beli masyarakat masih kuat di tengah ketidakpastian global.

Sebelumnya, ancaman Trump untuk mengenakan tarif terhadap negara-negara sekutu yang menentang ambisinya atas Greenland sempat mengguncang pasar dan memicu aksi jual luas pada aset-aset AS.

Meski demikian, sejumlah analis menilai belum ada tanda nyata investor global meninggalkan dolar AS.

“Argumen bahwa investor Eropa menjual aset AS sangat sulit dibuktikan,” kata Kepala Strategi Pasar BNY, Bob Savage.

“Ini bukan cerita ‘jual Amerika’, melainkan manajemen risiko,” tambahnya.

“Kami hanya melihat peningkatan lindung nilai karena volatilitas naik setelah berada di level sangat rendah pada akhir tahun lalu," tuturnya.

Hingga kini, rincian kerangka kesepakatan terkait Greenland belum diungkapkan. Namun Savage menilai gejolak pasar bersifat sementara.

Baca Juga: Bahlil Konfirmasi Izin Tambang Emas Martabe dan PLTA Batang Toru Dicabut

“Hasil yang paling mungkin adalah volatilitas ini akan berlalu dalam waktu singkat dan pasar kembali fokus pada kebijakan bank sentral serta perbedaan suku bunga,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: