Kredit Foto: Azka Elfriza
PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) menyatakan rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) hingga kini belum memiliki jadwal pasti. Keputusan tersebut masih menunggu kondisi pasar modal serta minat investor terhadap Amartha.
Founder & CEO Amartha Financial, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan perusahaan mencatatkan fundamental bisnis yang solid dan profitabilitas yang terjaga dalam beberapa tahun terakhir. Namun demikian, penentuan waktu IPO tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
“Kita alhamdulillah fundamental bisnis bagus, bisnis tahun lalu juga profit, dan profit kita terus jaga secara konsisten sepanjang beberapa tahun ke belakang,” ujar Taufan dalam acara Media Gathering Amartha, Jumat (23/1/2026).
Taufan menegaskan, IPO bukan semata target jangka pendek, melainkan aspirasi jangka menengah yang disesuaikan dengan kesiapan pasar. Menurutnya, IPO merupakan salah satu opsi strategis untuk mendukung pertumbuhan bisnis dan ekosistem start-up di Indonesia.
“IPO itu salah satu aspirasi buat bisnis kita, dan juga buat mendukung sektor start-up buat bisa lebih bergejolak lagi, lebih tumbuh lagi,” katanya.
Baca Juga: Targetkan IPO di 2027, Bank Jakarta Genjot Modal Inti Capai Rp3 Triliun
Saat ini, Amartha masih mencermati dinamika pasar modal dan persepsi investor sebelum mengambil keputusan strategis terkait pencatatan saham di bursa.
“Kapan waktunya buat Amartha buat IPO, tunggu takal main ya. Insya Allah kita lihat trennya ke depan seperti apa,” ujarnya.
Ia menambahkan, minat investor menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu IPO. Menurutnya, keputusan tersebut akan mengikuti sinyal dan permintaan pasar.
“Bagaimana market melihat, investor melihat Amartha, apakah Amartha memang ditunggu-tunggu buat IPO? Ya, kita ikuti permintaan pasar,” kata Taufan.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat layanan keuangan digital, termasuk permodalan, investasi mikro, dan pembayaran digital, menyumbang 80,5% tingkat inklusi keuangan di Indonesia. Amartha, yang telah beroperasi selama 16 tahun, menjadi salah satu pelaku financial technology (fintech) yang berperan dalam mendorong inklusi keuangan nasional.
Sejak 2010, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal kerja kepada lebih dari 3,7 juta UMKM di lebih dari 50.000 desa. Pada 2025, penyaluran modal kerja Amartha tercatat mencapai Rp13,2 triliun.
Taufan menyampaikan, penguatan inklusi keuangan menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menyediakan layanan keuangan digital yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perdesaan.
“Di tahun 2025, Amartha semakin memperkuat posisinya sebagai fintech penyedia layanan keuangan yang lengkap bagi UMKM dan masyarakat perdesaan,” ujarnya.
Baca Juga: Dua Emiten Jumbo Siap IPO di Awal 2026
Menurutnya, pengembangan produk dilakukan berdasarkan pemahaman terhadap kebutuhan UMKM akar rumput, serta diiringi penguatan tata kelola dan mitigasi risiko.
“Kombinasi pemahaman market, produk yang relevan, tata kelola, dan partnership dengan institusi global, menjadi fondasi Amartha untuk terus tumbuh berkelanjutan,” katanya.
Saat ini, Amartha juga tengah memperoleh izin dompet digital dari Bank Indonesia yang akan melengkapi ekosistem keuangan digital AmarthaFin, mencakup layanan investasi mikro, pembayaran digital, jaringan AmarthaLink, hingga pengajuan pinjaman modal kerja.
Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menyampaikan bahwa secara umum sektor fintech Indonesia masih menjadi daya tarik bagi investor global. Aliran investasi asing ke sektor fintech tercatat mencapai US$549 juta pada 2024 atau setara Rp9,25 triliun.
“Dengan model bisnis yang jelas, perempuan pengusaha mikro sebagai target pasar spesifik, manajemen risiko yang baik serta penerapan governansi standar perusahaan publik menghasilkan kinerja Amartha yang solid secara fundamental,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement