Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Peningkatan literasi keuangan masyarakat dinilai menjadi faktor utama di balik pertumbuhan signifikan jumlah investor dan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah mencatat, sejak penerapan sistem Single Investor Identification (SID) pada 2018, partisipasi masyarakat dalam investasi SBN ritel terus menunjukkan tren meningkat, baik dari sisi nominal maupun jumlah investor.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Surat Utang Negara (SUN) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, menjelaskan bahwa SID menjadi instrumen penting untuk mengukur tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Baca Juga: BCA Umumkan Jadwal Penerbitan SBN 2026, Cocok untuk Investasi Rendah Risiko!
Seluruh investor yang berinvestasi di pasar keuangan, termasuk SBN ritel, wajib memiliki SID sehingga data pertumbuhan investor dapat dipantau secara terukur.
“Pertumbuhan SBN ritel ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan literasi dan inklusi keuangan. Sejak penerapan SID di sistem e-SBN pada 2018, jumlah investor dan nominal penjualan terus meningkat,” ujar Novi dalam paparan media di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Dari sisi nominal, penjualan SBN ritel menunjukkan akselerasi yang kuat sejak 2020. Pada 2019, nominal penjualan SBN ritel tercatat sekitar Rp51 triliun. Angka tersebut melonjak menjadi Rp77 triliun pada 2020, dan terus meningkat pada 2021, 2022, hingga 2023 dengan nilai yang lebih besar.
Salah satu pendorong utama kenaikan tersebut adalah inovasi struktur penerbitan SBN ritel melalui skema dua tenor atau dual tranches.
Menurut Novi, penerapan dual tranches memungkinkan pemerintah menawarkan dua pilihan tenor dalam satu kali penerbitan, yakni tenor jangka pendek dan jangka panjang.
Skema ini dinilai efektif untuk menjaring investor dengan profil dan horizon investasi yang berbeda.
“Dengan dual tranches, kami bisa meng-capture investor yang memiliki horizon investasi lebih panjang dan juga investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi. Ini terbukti meningkatkan minat dan volume pembelian,” jelasnya.
Selain nominal, indikator lain yang mencerminkan peningkatan literasi keuangan adalah konsistensi munculnya investor baru pada setiap penerbitan SBN ritel.
Novi menyebut, setiap kali pemerintah menerbitkan SBN ritel, selalu terdapat investor yang baru pertama kali berinvestasi.
“Jumlah investor baru selalu ada di setiap penerbitan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat yang sebelumnya hanya melihat-lihat atau sekadar mendengar informasi, akhirnya mulai memahami dan memutuskan untuk berinvestasi,” katanya.
Pada 2025, jumlah investor baru SBN ritel tercatat sebanyak 102 investor, dengan total investor mencapai sekitar 263 investor.
Angka tersebut menjadi sinyal positif bahwa literasi keuangan masyarakat terus mengalami perbaikan, seiring dengan semakin mudahnya akses pembelian SBN ritel melalui sistem digital.
Kemudahan akses dinilai berperan besar dalam mendorong masyarakat untuk berinvestasi. Melalui sistem e-SBN, investor dapat membeli SBN ritel secara daring hanya dengan menggunakan gawai, tanpa harus datang ke kantor cabang.
Pemerintah juga aktif melakukan sosialisasi ke berbagai daerah dan kampus untuk memperkenalkan instrumen SBN ritel kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Novi menilai, meningkatnya literasi keuangan tidak hanya berdampak pada keputusan investasi individu, tetapi juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap perekonomian nasional.
Investor yang memahami instrumen keuangan dan memperoleh pendapatan rutin dari kupon SBN ritel berpotensi meningkatkan daya beli dan konsumsi rumah tangga.
“Ketika masyarakat mulai berinvestasi dan menerima kupon secara rutin, itu bisa menjadi tambahan penghasilan. Tambahan penghasilan ini pada akhirnya akan berkontribusi pada konsumsi dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Lebih jauh, Novi menekankan bahwa peningkatan literasi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda yang mendominasi struktur demografi Indonesia, menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi jangka panjang.
Masyarakat yang melek finansial dinilai lebih mampu merencanakan masa depan, mengelola risiko, dan memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dalam konteks pembiayaan negara, pertumbuhan investor SBN ritel juga memperkuat basis pembiayaan APBN dari sumber domestik.
Partisipasi masyarakat dalam SBN ritel tidak hanya memberikan manfaat finansial bagi investor, tetapi juga mendukung pembiayaan pembangunan nasional yang hasilnya kembali dirasakan oleh masyarakat.
“Ini adalah manfaat ganda. Investor mendapatkan keuntungan secara pribadi, sementara negara memperoleh sumber pembiayaan yang berkelanjutan untuk pembangunan,” kata Novi.
Ke depan, Kementerian Keuangan akan terus mendorong peningkatan literasi keuangan dan inklusi melalui penerbitan SBN ritel yang inovatif, terjangkau, dan mudah diakses.
"Dengan literasi yang semakin baik, pemerintah optimistis partisipasi masyarakat dalam investasi SBN ritel akan terus tumbuh dan menjadi pilar penting dalam penguatan ekonomi nasional," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Fajar Sulaiman
Advertisement