- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Saham Perbankan Jadi Sektor Paling Responsif terhadap Tekanan Global
Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi sektor yang paling cepat merespons gejolak global seiring meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan menguatnya kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve.
Sentimen tersebut memengaruhi pergerakan pasar keuangan global dan berdampak langsung pada saham-saham bank berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap perubahan suku bunga dan arus modal.
Praktisi pasar modal Hans Kwee menyampaikan, dinamika kebijakan moneter AS saat ini menciptakan volatilitas baru di pasar obligasi dan valuta asing global.
Kondisi tersebut membuat sektor perbankan menjadi barometer utama reaksi pasar, mengingat kinerja saham bank sangat dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga, yield obligasi, serta pergerakan dana asing.
“Pasar saat ini tidak hanya melihat apakah suku bunga AS turun atau tidak, tetapi siapa yang mengendalikan kebijakan itu. Ketika independensi The Fed dipertanyakan, volatilitas global meningkat dan sektor perbankan langsung terkena dampaknya,” ujar Hans dikutip Selasa (27/1/2026).
Ketidakpastian tersebut mengemuka di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump terhadap Federal Reserve untuk segera memangkas suku bunga.
Trump mendorong penurunan suku bunga hingga mendekati 2 persen atau lebih rendah guna membuka ruang pembiayaan ulang utang pemerintah AS.
Namun, The Fed di bawah pimpinan Jerome Powell masih mempertahankan kebijakan suku bunga dengan mempertimbangkan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Perbedaan pandangan tersebut membentuk ekspektasi pasar yang berfluktuasi. Penundaan pemangkasan suku bunga berpotensi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di level tinggi lebih lama.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, kondisi ini meningkatkan risiko volatilitas arus modal, yang secara historis berdampak langsung pada pergerakan saham perbankan.
Hans menjelaskan, sektor perbankan berada pada posisi yang sangat responsif terhadap perubahan ekspektasi global. Di satu sisi, tingkat suku bunga yang relatif tinggi dapat mendukung margin bunga bersih (net interest margin). Namun, ketidakpastian berkepanjangan juga meningkatkan risiko tekanan pada kualitas aset dan volatilitas harga saham di pasar sekunder.
“Perbankan itu sektor yang paling cepat merespons perubahan ekspektasi suku bunga global. Begitu yield US Treasury naik atau turun tajam, saham bank langsung bergerak,” ujarnya.
Selain faktor suku bunga, isu independensi bank sentral AS turut memengaruhi persepsi risiko sistemik global.
Ketika pasar menilai kebijakan moneter rentan terhadap tekanan politik, investor cenderung mengambil sikap lebih defensif, terutama terhadap sektor keuangan di negara berkembang yang bergantung pada stabilitas arus dana.
Dalam konteks pasar domestik, saham perbankan memiliki bobot besar terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dengan kapitalisasi pasar dan likuiditas yang tinggi, saham bank berfungsi sebagai penyangga indeks, meskipun pergerakannya kerap berfluktuasi mengikuti perubahan sentimen global.
Hans menilai investor institusi tidak serta-merta meninggalkan sektor perbankan, melainkan melakukan penyesuaian portofolio.
Bank dengan permodalan kuat, likuiditas memadai, serta manajemen risiko yang terjaga dinilai lebih mampu menghadapi tekanan eksternal dibandingkan bank berskala lebih kecil.
“Dalam kondisi global yang tidak menentu, seleksi menjadi kunci. Investor akan tetap berada di sektor perbankan, tapi fokus pada bank yang punya daya tahan neraca dan likuiditas kuat,” katanya.
Seiring berlanjutnya ketidakpastian kebijakan moneter AS, saham perbankan Indonesia terus menjadi cerminan utama sensitivitas pasar domestik terhadap dinamika global, sekaligus indikator awal perubahan sentimen investor di BEI.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Advertisement