Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Anjlok Jadi Sorotan Dunia: Situasinya Makin Gelap

IHSG Anjlok Jadi Sorotan Dunia: Situasinya Makin Gelap Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar Modal Indonesia menjadi sorotan dunia. Hal itu menyusul nasibnya yang tengah menghadapi tekanan serius seiring anjloknya harga saham dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.

Dikutip dari Reuters, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan telah kehilangan hampir dua belas persen nilai kapitalisasi pasar, atau lebih dari US$80 Miliar. Hal ini menyusul peringatan penurunan status indeks saham dari berkembang menjadi pasar frontier. Peringatan tersebut terkait masalah transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan di pasar domestik.

Baca Juga: IHSG Ambles Hampir 5%, Purbaya: Saya Akan Serok di Bawah

Co-Head Emerging Markets Corporate Debt Ninety One, Alan Siow mengatakan bahwa pasar menyoroti sejumlah manuver pemerintah dalam menghadapi ancaman tersebut, mulai dari janji reformasi hingga pengunduran diri lima pejabat senior dari regulator keuangan dan bursa. Namun semua itu belum berhasil menghentikan tekanan terhadap pasar modal dari Indonesia.

Ia menilai hal itu tidak terlepas dari bagaimana arah kebijakan ekonomi dari Prabowo. Indonesia diketahui tengah memperluas peran militer dalam pemerintahan dan meningkatkan anggaran pertahanan.

Di sektor ekonomi, presiden menunjuk keponakannya sebagai anggota dewan bank sentral bulan lalu dan pada tahun lalu, telah memecat Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Ia merupakan sosok yang selama ini dipandang kredibel oleh pasar.

“Situasinya jelas semakin gelap,” kata Alan Siow.

Kepergian Sri Mulyani menjadi sinyal awal memburuknya kepercayaan investor. Dari hal itu, investor global mulai menghindari tanah air dan menilai kebijakan belanja besar serta pola tata kelola pemerintahan yang dinilai terlalu akomodatif berisiko menggerus kemajuan reformasi yang dicapai sejak krisis finansial di Asia.

Data menunjukkan investor asing mencatatkan penjualan bersih hampir Rp14 triliun saham lokal sepanjang 2025. Mereka kembali melepas US$783 juta di Januari. Di pasar obligasi, investor asing juga mencatatkan penjualan bersih sekitar US$6,4 Miliar di 2025.

Tak hanya itu, salah satu sorotan utama dalam pasar saham adalah praktik yang dikenal sebagai pom-pom saham atau saham gorengan dimana transaksi antar pihak terafiliasi untuk mendorong harga saham secara artifisial. Untuk mengatasinya, otoritas mengusulkan perluasan kewajiban keterbukaan kepemilikan saham besar serta peningkatan porsi saham yang dapat diperdagangkan publik (free float) menjadi 15%.

Baca Juga: IHSG Masih Terkapar Ratusan Saham Anjlok, Bos Danantara Sebut Koreksi Alam

Namun, kebijakan tersebut menuntut emiten merapikan struktur kepemilikan sahamnya agar lebih banyak saham beredar dalam pasar. Meski investor menyambut baik langkah tersebut, mereka masih meragukan apakah reformasi itu cukup untuk memenuhi standar dari MSCI.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: