Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Laporan BCG: Peluang Perbankan Syariah Indonesia Masih Besar, Kunci Ada di Pemahaman Konsumen dan Digitalisasi

Laporan BCG: Peluang Perbankan Syariah Indonesia Masih Besar, Kunci Ada di Pemahaman Konsumen dan Digitalisasi Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peluang pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia dinilai masih sangat besar meski tingkat penetrasinya saat ini relatif rendah. Hal itu disampaikan Boston Consulting Group (BCG) dalam laporan terbaru bertajuk Finance and Future Growth: Capturing Indonesia's Sharia Banking Opportunity yang mengulas potensi pasar, faktor pendorong industri, serta karakteristik konsumen keuangan syariah di Indonesia.

Managing Director dan Partner BCG Indonesia, Tushar Agarwal, mengatakan pihaknya telah mengikuti perkembangan sektor keuangan syariah Indonesia sejak 2016. Ia menilai sebelumnya pertumbuhan industri cenderung menantang karena keterbatasan produk dan kapabilitas perbankan syariah yang belum sekuat bank konvensional.

“Dulu cukup sulit tumbuh karena kedalaman produk terbatas dan banyak keterbatasan dari sisi industri. Untuk menawarkan value proposition yang setara dengan bank konvensional itu tidak mudah,” ujar Tushar.

Namun, menurut dia, situasi berubah sejak pandemi dan percepatan digitalisasi. Konsolidasi industri menciptakan skala yang lebih besar, sementara digitalisasi memudahkan bank menjangkau lebih banyak nasabah.

“Konsolidasi menciptakan scale dan digitalisasi membuat bank lebih mudah menjangkau masyarakat. Karena itu kami melihat syariah bisa kembali menjadi game changer di Indonesia,” katanya.

Ia menilai Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan keuangan syariah global, mengikuti jejak negara-negara di Timur Tengah dan Malaysia. Dengan pasar domestik yang besar, Indonesia dinilai bisa membangun skala untuk menjadi pemain global.

Baca Juga: 11 Tahun Menjabat, Komisaris Utama JMA Syariah (JMAS) Putuskan Mundur

Dari sisi supply, pertumbuhan keuangan syariah didorong oleh fondasi kebijakan yang semakin kuat. Pemerintah dinilai aktif mengembangkan strategi ekonomi syariah nasional dan berbagai instrumen keuangan syariah. Regulasi juga mendorong konsolidasi dan pemisahan unit usaha syariah. Inovasi dan digitalisasi turut mempercepat perkembangan melalui bank digital syariah dan fintech syariah.

Asia Pacific Practice Area Senior Manager Financial Institutions BCG, Valdi Rahman, mengatakan tren dari sisi supply dan demand sama-sama menunjukkan arah positif.

“Literasi keuangan syariah naik dari sekitar 39 persen ke 43 persen. Ini mendorong awareness menjadi partisipasi. Di sisi lain, gaya hidup halal juga meningkat, termasuk penggunaan produk keuangan halal dan sertifikasi halal,” ujar Valdi.

Ia menambahkan, penghimpunan dan penyaluran dana ziswaf nasional juga meningkat sekitar 25 persen menjadi sekitar Rp40 triliun pada 2024. “Tren supply dan demand ini menopang pertumbuhan industri dalam jangka panjang,” katanya.

Dari sisi konsumen, BCG menilai pemahaman perilaku nasabah menjadi kunci. Project Leader BCG Indonesia, Aisyah Rahmawati, mengatakan selama ini segmentasi sering berbasis demografi, padahal perilaku konsumen syariah lebih kompleks.

“Kami melakukan survei ke seluruh Indonesia, mencakup Muslim dan non-Muslim. Hasilnya menunjukkan bahwa keuangan syariah bukan hanya untuk Muslim,” ujar Aisyah.

BCG mengelompokkan konsumen menjadi lima kategori: conformist, conservative, liberal, universalist, dan conventional only. Empat kategori pertama dinilai sebagai pasar potensial.

“Conformist sangat dipengaruhi tokoh agama. Conservative tetap mempertimbangkan aspek religius tapi juga melihat daya saing produk. Liberal fokus pada deals terbaik. Universalist, yang banyak non-Muslim, tertarik pada value tertentu seperti emas,” jelasnya.

Menurut Aisyah, temuan ini menunjukkan strategi komunikasi bank syariah harus berbeda untuk tiap segmen. “Cara menarik perhatian mereka tidak bisa sama. Ada yang perlu pendekatan religius, ada yang harus ditekankan sisi kompetitif produknya,” katanya.

Partner BCG, Miftah Mizan menilai pertumbuhan industri syariah membutuhkan kolaborasi seluruh ekosistem, mulai dari regulator, bank, investor, pasar modal, hingga pelaku teknologi.

“Opportunity ini bukan cuma soal satu dua bank tumbuh cepat, tapi bagaimana seluruh ekosistem bergerak bersama dan mencapai scale yang belum pernah terjadi,” ujarnya.

Ia menekankan bank syariah juga harus mampu bersaing dari sisi pengalaman nasabah. “Tidak cukup hanya menawarkan prinsip syariah. Nasabah menuntut speed, digital capabilities, dan experience yang setara dengan bank konvensional,” katanya.

Terkait penetrasi, Tushar mengakui pangsa aset perbankan syariah di Indonesia masih sekitar 7 persen dari total aset perbankan. Ia menilai hal itu terjadi karena banyak nasabah menggunakan lebih dari satu bank dan rekening operasional utama masih didominasi bank konvensional.

“Penetrasi masih rendah, tapi opportunity-nya besar karena pasar Indonesia underpenetrated dibanding negara lain. Kalau bank syariah bisa menjadi operating account utama, aset bisa berpindah dan penetrasi naik,” ujarnya.

Aisyah menambahkan, pertumbuhan aset bank syariah periode 2018–2024 mencapai sekitar 12 persen, lebih tinggi dibanding bank konvensional sekitar 8 persen. “Secara matematis, kalau growth ini sustain, penetrasi syariah akan naik,” katanya.

BCG menilai selama industri mampu membangun kepercayaan dan relevansi di mata konsumen, keuangan syariah berpotensi menjadi salah satu pilihan utama layanan keuangan masyarakat Indonesia, bukan sekadar alternatif.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: