Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Temuan Ekspedisi KKP-WWF Indonesia di Perairan Maluku

Temuan Ekspedisi KKP-WWF Indonesia di Perairan Maluku Kredit Foto: Suara.com

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Program Kelautan dan Perikanan, Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf menambahkan, hasil ekspedisi mampu menunjukkan bahwa Maluku Barat Daya memiliki pulau-pulau kecil yang dikelilingi perairan yang masih terjaga sejak zaman leluhur. Pihaknya menyaksikan bagaimana terumbu karang di sana tetap sehat dan tangguh di saat banyak wilayah lain mengalami pemutihan. 

“Kita menemukan habitat terbesar dugong. Namun, keajaiban ini sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar, serta tidak lepas dari isu sampah plastik dan ghost net. Kita harus berkolaborasi memperkuat pengawasan berbasis masyarakat melalui Pokmaswas agar kekayaan ini tidak hilang,” ungkapnya.

Keberlangsungan kekayaan alam di MBD kini menghadapi tantangan besar yang memerlukan tindakan kolektif segera. Ancaman nyata dari praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan racun, perburuan penyu, hingga polusi sampah plastik yang mulai merambah pesisir terpencil, berisiko merusak resiliensi ekosistem yang telah terjaga selama berabad-abad. 

Mengingat posisi Maluku Barat Daya sebagai pemasok nutrisi yang kaya dari samudera dan laut dalam, kerusakan di wilayah ini akan berdampak luas pada ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional. Itu sebabnya, penguatan pengawasan kolaboratif dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, serta mitra pembangunan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan kepulauan yang tersembunyi ini dari kerusakan permanen.

Berangkat dari temuan ilmiah yang kuat, komitmen pemerintah, dan peran nyata masyarakat adat, Maluku Barat Daya kini berdiri sebagai simbol harapan bagi masa depan laut Indonesia. Sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan penyadartahuan masyarakat pesisir MBD terkait keberadaaan kawasan konservasi dan spesies kunci yang ada didalamnya, WWF-Indonesia akan menyusun beberapa program sosiaslisasi dengan menggunakan pendekatan lokal Kalwedo. 

Kalwedo diambil dari bahasa lokal yang merupakan ungkapan budaya masyarakat Maluku Barat Daya yang bermakna persaudaraan, kebersamaan, dan komitmen untuk hidup saling menghormati serta saling menolong sebagai satu kesatuan. Integrasi kearifan lokal ini diharapkan dapat menjadi alat komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda di MBD, guna menanamkan rasa bangga dan kepemilikan terhadap keajaiban kepulauan tersembunyi ini sejak dini.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Bagikan Artikel: