Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Temuan Ekspedisi KKP-WWF Indonesia di Perairan Maluku

Temuan Ekspedisi KKP-WWF Indonesia di Perairan Maluku Kredit Foto: Suara.com
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia menyelenggarakan Ekspedisi Kawasan Konservasi Kepulauan Romang dan Damer Maluku Barat Daya 2025 pada 3 Oktober hingga 3 November 2025.

Dalam ekspedisi ilmiah yang berlangsung selama satu bulan ini, KKP bersama WWF menemukan berbagai penemuan penting.

Baca Juga: Semakin Tumbuh, Kontribusi Industri Pengolahan Terhadap PDP Terus Naik

Hasil kegiatan ini mengukuhkan perairan Maluku Barat Daya (MBD) sebagai salah satu ekosistem laut paling resilien di dunia yang mendapatkan pasokan nutrisi dari Laut Banda dan Samudera Hindia. 

Para peneliti yang terlibat dalam kegiatan ini mampu membuktikan bahwa perairan Maluku Barat Daya menjadi pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut dunia di tengah ancaman perubahan iklim global.

Ini dsampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara pada talkshow Bincang Bahari membahas temuan tersebut di kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026.

"Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal, sejalan dengan implementasi ekonomi biru. Dalam konteks tersebut, hasil Ekspedisi Romang–Damer 2025 menjadi kontribusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujarnya, dikutip dari siaran pers KKP, Jumat (6/2).

Habitat dugong terbesar di dunia

Perairan Maluku Barat Daya menjadi koridor migrasi utama untuk 24 spesies laut terancam punah dan dilindungi, termasuk paus biru, orca, hiu martil, beberapa jenis penyu, hingga dugong. Ekspedisi ilmiah yang digelar pada 3 Oktober – 3 November 2025 ini berhasil menyingkap habitat dugong terbesar di Indonesia. Dalam satu area, patra peneliti menjumpai dugong sebanyak 32 ekor. Berdasarkan catatan peneliti, populasi dugong dalam jumlah besar menjadi temuan langka, bahkan untuk ukuran dunia.

Tentu saja, penemuan penting yang menyibak biota kunci Nusantara itu sekaligus mengukuhkan bahwa kualitas perairan Maluku Barat Daya masih relatif terjaga. Kawasan laut ini mampu memasok nutrisi bagi spesies kunci hingga menjadi rumah yang nyaman untuk sejumlah biota. 

Para peneliti telah mencatat ekosistem lamun, yang menjadi rumah dugong, berada dalam kondisi sangat baik dengan tutupan di atas 50%. Tim ekspedisi berhasil menemukan 2/3 jenis lamun yang tercatat ada di Indonesia (9 jenis dari total 14 jenis lamun).

Data ekspedisi lainnya menunjukkan, ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Romang dan Damer dalam kondisi sedang-baik. Hal ini tercermin dari angka rata-rata tutupan terumbu karang tertinggi mencapai 51,4%. Angka temuan ini di atas rata-rata regional (34%). Dalam analisis tingkat lanjut, peneliti menemukan bahwa sebagian koloni karang di perairan itu berusia sekitar 100-200 tahun. 

Fakta tersebut menunjukkan bahwa ekosistem perairan dangkal di kawasan itu telah bertahan sejak lama. Ekosistem tua ini mampu memberikan manfaat ekologis yang tinggi, seperti penjaga kawasan pantai, daerah pemijahan hewan-hewan laut penting dan bernilai ekonomis. Tentu saja, perairan dangkal nan sehat ini memiliki peran krusial bagi masa depan Indonesia. 

Peran masyarakat adat di tengah tantangan besar

Ekspedisi ini juga menyoroti peran vital masyarakat adat Maluku Barat Daya yang masih memegang teguh prinsip keberlanjutan melalui kearifan lokal. Di Pulau Romang dan Damer, praktik Sasi serta larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama yang menjaga keseimbangan ekosistem sejak zaman nenek moyang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Bagikan Artikel: