Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Proyek Bauksit Rp104,5 Triliun MIND ID Jalan, Impor Aluminium Ditargetkan Menyusut

Proyek Bauksit Rp104,5 Triliun MIND ID Jalan, Impor Aluminium Ditargetkan Menyusut Kredit Foto: MIND ID
Warta Ekonomi, Mempawah -

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara meresmikan dimulainya proyek strategis nasional (PSN) hilirisasi bauksit terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat, Jumat (6/2/2026). Proyek bernilai Rp104,55 triliun (US$6,23 miliar) ini ditargetkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas hingga 70 kali lipat.

Pengembangan melibatkan sinergi tiga anggota holding industri pertambangan MIND ID, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) sebagai penggerak industri aluminium, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) sebagai pemasok bauksit, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebagai penyedia energi.

Agenda peresmian mencakup dua proyek utama. Pertama, groundbreaking Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun yang ditargetkan commercial operation date (COD) pada 2028. Kedua, groundbreaking new aluminium smelter berkapasitas 600.000 metrik ton per tahun dengan target COD kuartal I-2029.

Baca Juga: MIND ID Resmikan Smelter Mempawah, Targetkan Devisa Rp52 Triliun

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan fasilitas ini akan menekan ketergantungan impor sekaligus memperkuat cadangan devisa. Saat smelter aluminium baru beroperasi, devisa diproyeksikan melonjak 394% dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun.

“Proyek ini merupakan kontribusi Grup MIND ID untuk menciptakan nilai tambah domestik, memperkuat ekonomi, dan menegaskan kedaulatan mineral Indonesia,” ujar Maroef dalam seremoni peresmian.

Ia menjelaskan hilirisasi meningkatkan nilai ekonomi bauksit secara signifikan. Harga bijih mentah sekitar US$40 per metrik ton naik menjadi US$400 setelah diolah menjadi alumina, lalu melonjak hingga US$2.800–US$3.000 per metrik ton saat diproses menjadi aluminium.

Melalui program ini, bauksit yang ditambang di dalam negeri diproses hingga menjadi produk bernilai tinggi di Indonesia.

Baca Juga: Pertamina dan MIND ID Kolaborasi Hilirisasi Batu Bara jadi DME untuk Kurangi Impor LPG

Secara teknis, pembangunan SGAR Fase II oleh Inalum dan Antam melalui PT Borneo Alumina Indonesia akan menggenapkan kapasitas produksi alumina domestik menjadi 2 juta ton per tahun. Fasilitas tersebut menyerap 6 juta ton bijih bauksit per tahun dari tambang Antam di Kabupaten Mempawah dan Landak.

Sementara itu, Inalum yang saat ini mengoperasikan smelter Kuala Tanjung berkapasitas 275.000 ton akan meningkatkan kapasitas total menjadi 900.000 ton per tahun melalui tambahan fasilitas di Mempawah. Seluruh produksi diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri manufaktur dalam negeri.

Dampak ekonomi proyek diperkirakan signifikan, dengan potensi peningkatan produk domestik bruto (PDB) sekitar Rp71,8 triliun per tahun dan tambahan penerimaan negara Rp6,6 triliun per tahun. Proyek ini juga berpotensi menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja sejak tahap konstruksi hingga operasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: