- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Bukan Regulator, Kekhawatiran Pengaruh Danantara di Pasar Modal Dinilai Terlalu Dini
Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Kekhawatiran terhadap potensi pengaruh Danantara Indonesia di pasar modal dinilai terlalu dini. Pengamat ekonomi dan pasar modal Dr. Farid Subkhan, M.E., M.Dev. menilai Danantara Indonesia sebagai sovereign wealth fund (SWF) berperan strategis untuk mengelola aset negara dan melakukan investasi untuk menghasilkan return yang optimal bagi negara. Terkait kepemilikan saham di pasar bursa, Danantara Indonesia tidak dapat dipandang sebagai regulator.
"Danantara bukan regulator. Danantara adalah salah satu market player dalam perekonomian. Kepemilikan saham pada institusi publik berfungsi sebagai investasi untuk mendapatkan gain tertentu," katanya yang dikutip di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Farid menilai Danantara Indonesia dalam hal ini berfungsi sebagai market driver dan market balancer. Dalam menjalankan fungsi tersebut, kata Farid, Danantara mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di berbagai sektor, baik sektor riil maupun sektor keuangan, juga investasi dalam dan luar negeri.
Baca Juga: Danantara Undang Swasta Biayai 6 Proyek Hilirisasi Senilai Rp110 Triliun
"Termasuk untuk menjaga daya saing perusahaan negara dalam persaingan global dan memperkuat daya saing ekonomi nasional," kata pria yang aktif sebagai pengurus KADIN ini.
Terkait dengan keterlibatan Danantara Indonesia dalam menanamkan investasi di pasar modal, menurut Farid, hal tersebut bukanlah sebagai regulator, melainkan sebatas market player dalam perekonomian. Pihak yang menjalankan fungsi regulator dalam hal ini adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Wajar bila Danantara memiliki penyertaan saham di BEI karena hal itu merupakan praktik investasi yang sangat lazim," ujarnya.
Farid juga mencontohkan hal serupa terjadi di negara maju. Seperti Singapura yang memiliki saham di Singapore Exchange (SGX), Qatar Investment Authority yang memiliki saham di Qatar Stock Exchange dan London Stock Exchange, dan China Investment Corporation (CIC) yang memiliki saham di Shanghai Stock Exchange, Shenzhen Stock Exchange, Hong Kong Exchanges & Clearing, hingga London Stock Exchange.
Sementara itu, Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyampaikan pergerakan pasar dalam beberapa hari terakhir menunjukkan proses penyesuaian yang berjalan secara tertib dan mulai menemukan keseimbangan. Setelah sempat terjadi volatilitas, pasar pada perdagangan hari ini terlihat mulai rebound, mencerminkan respons investor yang semakin rasional dan selektif.
Baca Juga: Rosan Jawab Kekhawatiran Moody’s soal Danantara
“Sejak awal, kami melihat dinamika pasar ini secara utuh dan proporsional. Meski sempat terjadi penyesuaian jangka pendek, pasar relatif cepat menunjukkan sinyal pemulihan, seiring kembalinya minat terhadap saham-saham dengan fundamental dan likuiditas yang kuat,” ujar Pandu.
Menurutnya, pergerakan tersebut mengonfirmasi bahwa pasar tengah melakukan rebalancing berbasis kualitas aset. Dalam konteks yang lebih luas, tekanan dan volatilitas yang terjadi juga bersifat regional dan global, bukan fenomena yang berdiri sendiri di Indonesia.
“Aset-aset yang tetap diminati adalah perusahaan dengan fundamental yang solid, arus kas yang sehat, valuasi yang menarik, dan likuiditas memadai. Ini menunjukkan bahwa mekanisme pasar bekerja dan penyesuaian berlangsung secara rasional,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Fajar Sulaiman