Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sempat Menguat, IHSG Pagi Ini Balik Anjlok Masih Dibayangi Sentimen Moody's

Sempat Menguat, IHSG Pagi Ini Balik Anjlok Masih Dibayangi Sentimen Moody's Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada level 7.970,02 pada perdagangan Senin, 9 Februari 2026. Namun, beberapa menit setelah perdagangan dibuka, IHSG turun ke zona merah. 

Berdasarkan data RTI pada pukul 09.13 WIB, IHSG terkoreksi 69,49 poin atau 0,88% ke level 7.865,76. Sebanyak 384 saham bergerak turun, 191 saham bergerak naik dan 136 saham tidak bergerak. 

Per pagi hari ini, IHSG sudah mencatatkan volume perdagangan 4,81 miliar lembar saham dengan frekuensi 297.677 kali. Adapun nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp2,27 triliun. 

PT Eka Sari Lorena Tbk (LRNA) menjadi saham top gainers dengan kenaikan tajam 20,75% ke Rp256. Diikuti PT Lion Metal Works Tbk (LION) yang meroket 20,66% ke Rp730 dan PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) yang melesat 20,10% ke Rp478. 

Di posisi top losers ada PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) yang anjlok 14,87% ke Rp1.145, PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yang ambruk 14,69% ke Rp5.225 dan PT MD Entertainment Tbk (FILM) yang merosot 14,67% ke Rp5.525.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Hari Ini, Intip 6 Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas

Pergerakan IHSG hari ini masih dibayangi sentimen Moody’s Investors Service yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif dengan peringkat Baa2.

Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas Fanny Suherman memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (9/2) berpotensi menguat secara terbatas. Rentang support diperkirakan berada di level 7.780–7.850, sedangkan area resistance berada di kisaran 8.000–8.050.

"Tapi hati-hati sepanjang IHSG belum break di atas 8050, masih rentan koreksi lagi," kata Fanny dalam risetnya.

Sementara itu, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG hari ini akan melemah. "Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.800 – 8.320," demikian pernyataan Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya. 

Moody’s mengubah outlook lima bank besar Indonesia—BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, dan BBTN— menjadi negatif dari stabil, sejalan dengan revisi outlook sovereign Indonesia ke negatif meski peringkat tetap di Baa2. 

Perubahan ini mencerminkan meningkatnya risiko kredibilitas kebijakan akibat menurunnya prediktabilitas dan koherensi perumusan serta komunikasi kebijakan dalam setahun terakhir. Meski demikian, seluruh peringkat kredit bank ditegaskan tetap, dengan catatan bahwa penurunan peringkat sovereign berpotensi menyeret peringkat bank. 

Secara individual, Mandiri dan BRI dinilai masih kuat namun menghadapi tekanan buffer modal, risiko kredit, dan margin. BNI memiliki permodalan dan pendanaan stabil tetapi profitabilitas relatif lebih rendah.

BCA unggul pada kualitas aset, profitabilitas, dan likuiditas. Sementara BTN masih menghadapi tantangan struktural pada kualitas aset dan pencadangan, meski mendapat dukungan pemerintah yang sangat tinggi. 

Baca Juga: IHSG Diramal Melemah Terbatas, IPOT Rekomendasikan Saham-saham Ini

"Kami menilai perubahan outlook menjadi negatif berpotensi menekan sentimen pasar terhadap saham dan obligasi perbankan, terutama bank BUMN, meski tanpa perubahan peringkat dalam jangka pendek," ungkap Pilarmas Investindo Sekuritas. 

Dari sisi pendanaan, biaya dana (cost of fund) dapat meningkat apabila persepsi risiko sovereign memburuk, sehingga menekan margin bunga bersih (NIM) di tengah kompetisi likuiditas yang ketat. Ruang pertumbuhan kredit juga berpotensi lebih selektif, khususnya pada segmen berisiko seperti UMKM dan sektor komoditas, seiring kehati-hatian manajemen risiko. 

Namun, dampak fundamental diperkirakan masih terbatas karena permodalan dan likuiditas bank-bank besar tetap kuat serta dukungan pemerintah dinilai tinggi. Volatilitas harga saham kemungkinan lebih dipicu sentimen makro dan arah kebijakan ke depan, ketimbang perubahan kinerja operasional dalam jangka pendek.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Bagikan Artikel: