Kredit Foto: Unsplash/Isaac Smith
Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 sebesar 5,11% secara tahunan (year on year/yoy) menyimpan kejanggalan struktural, menyusul tidak selarasnya laju pertumbuhan dengan komponen utama penyumbang produk domestik bruto (PDB). Penilaian ini merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sebesar 5,39% yoy.
Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menyatakan konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) secara kumulatif sepanjang 2025 tidak tumbuh melampaui 5,11%, padahal kedua komponen tersebut berkontribusi dominan terhadap PDB nasional.
“Dari sisi c to c atau kumulatif 2025, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan PMTB tidak melebihi angka 5,11% sedangkan kontribusi keduanya mencapai 82,65%. Lantas, sumber pertumbuhan yang membuat jadi 5,11% dari mana?” ujar Nailul dalam keterangannya, Senin (9/2/2026).
Baca Juga: Purbaya: Ekonomi RI Tumbuh Kuat, Penilaian Moody’s Berpotensi Membaik
Menurut Nailul, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menilai, secara teori, pertumbuhan agregat semestinya ditopang oleh komponen dengan kontribusi terbesar, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi.
Namun, BPS justru mencatat ekspor sebagai komponen dengan pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025, yakni sebesar 7,03%. Nailul mengingatkan bahwa kinerja ekspor tidak dapat dilepaskan dari impor sebagai bagian dari perdagangan internasional.
“Jika dilihat dari paparan kepala BPS, pertumbuhan tertinggi adalah ekspor dengan pertumbuhan 7,03%. Namun jangan lupa, ekspor tidak pernah berdiri sendiri karena ada impor (perdagangan internasional),” katanya.
Lebih lanjut, Nailul menegaskan bahwa sekalipun net ekspor mencatat pertumbuhan tinggi, kontribusinya terhadap PDB relatif terbatas. Berdasarkan data BPS, kontribusi net ekspor terhadap PDB hanya sekitar 8,47%.
“Pun tumbuh tinggi net ekspor, kontribusinya relatif kecil, 8,47%, namun jadi pendorong utama? Ini jadi pertanyaan,” ucapnya.
Baca Juga: Airlangga: Ekonomi RI 2026 Optimis Tumbuh, Potensi Resesi Hanya 3%
Ia menilai ketergantungan pada komponen dengan kontribusi kecil seharusnya tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi agregat yang relatif tinggi. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya anomali dalam pembacaan dan penyajian data ekonomi nasional.
Nailul menekankan bahwa ketidaksinkronan antara struktur PDB dan laju pertumbuhan ekonomi perlu mendapat penjelasan metodologis yang lebih rinci dari otoritas statistik. Tanpa penjelasan yang memadai, publik berpotensi memiliki persepsi yang keliru terhadap kondisi riil perekonomian dan daya beli masyarakat.
“Angkanya hampir serupa dengan apa yang diumumkan oleh BPS. Apakah ada pesanan khusus dari Kementerian Keuangan?” tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: