Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Terima PMN Rp1,8 Triliun, KAI Ungkap Kebutuhan Trainset Capai Rp9,18 Triliun

Terima PMN Rp1,8 Triliun, KAI Ungkap Kebutuhan Trainset Capai Rp9,18 Triliun Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengungkapkan kebutuhan pendanaan sebesar Rp 9,18 triliun untuk pengadaan sarana kereta rel listrik (KRL). Dana tersebut ditujukan untuk menambah trainset baru sekaligus menekan kepadatan penumpang yang diproyeksikan melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan.

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo menyampaikan, tanpa pengadaan sarana baru, kepadatan penumpang berpotensi meningkat hingga 630% pada 2030. Kondisi saat ini pun sudah menunjukkan tekanan, terutama pada jam sibuk, di mana satu meter persegi gerbong dapat diisi hingga lima orang. Rute terpadat berada di lintas Green Line arah Rangkasbitung.

“Kami menghadapi keterbatasan sarana. Headway di jalur Rangkasbitung masih 10–15 menit dan belum bisa diperpendek karena kendala elektrifikasi dan sistem persinyalan,” ujar Didiek dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Baca Juga: Tok! PMN Pelni, KAI & INKA Cair, Danantara-BP BUMN Langsung Kawal

Didiek menjelaskan, KAI akan meningkatkan elektrifikasi dari 3.000 volt menjadi 4.000 volt serta melakukan upgradesistem persinyalan pada 2026. Langkah ini ditargetkan memungkinkan pengoperasian kereta baru dengan frekuensi lebih rapat mulai 2027.

Dari total kebutuhan Rp 9,18 triliun, pemerintah memberikan dukungan pendanaan sebesar Rp 5,3 triliun. Salah satunya berasal dari PMN tunai 2025 senilai Rp 1,8 triliun yang diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2025.

Didiek merinci, dana PMN tersebut digunakan untuk pelunasan bridging loan sebesar Rp 529 miliar, kelanjutan produksi 16 trainset baru di PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA senilai Rp 1,09 triliun, serta proyek retrofit dua trainsetoleh INKA senilai Rp 170 miliar.

“Kami harapkan 11 trainset produksi INKA dapat beroperasi sebelum Juli 2026. Selain itu, 11 trainset impor dari CRRC Sifang Tiongkok sudah mulai beroperasi bertahap sejak awal 2025,” kata Didiek.

Baca Juga: KAI Catat Pemudik Lebaran Saat ini Sudah Memesan 131.756 Tiket, Masih Tersedia?

Sementara itu, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Rionald Silaban menegaskan, PMN 2025 untuk sektor perkeretaapian merupakan bagian dari strategi mendorong peralihan moda transportasi ke angkutan massal rendah emisi. Pemerintah juga menyuntik PT INKA sebesar Rp 473 miliar melalui PP Nomor 50 Tahun 2025.

“Dengan optimalisasi angkutan kereta api, kami memproyeksikan pengurangan emisi hingga 5,21 juta ton CO₂ sampai 2040,” ujar Rionald.

Investasi tersebut mulai berdampak pada peningkatan layanan. KAI mencatat, pengoperasian Stasiun Jatake di lintas Rangkasbitung yang dibuka dua pekan lalu telah menambah sekitar 2.500 penumpang per hari. KAI menargetkan peningkatan kapasitas layanan guna mengejar trafik hingga 2 juta penumpang per hari di wilayah Jabodetabek.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: