Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Lembaga Pemeringkat Asing Bikin Volatil, Jaring Pengaman Penting bagi Pasar Modal Indonesia

Lembaga Pemeringkat Asing Bikin Volatil, Jaring Pengaman Penting bagi Pasar Modal Indonesia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dalam konteks stabilitas pasar, lembaga pemeringkat asing turut mempengaruhi volatilitas pasar modal Indonesia. Hal ini disampaikan oleh lembaga independen Evident Institute.

“Kami tidak menampik masih adanya berbagai kelemahan di lembaga keuangan maupun pengawasan pasar modal Indonesia yang memungkinkan praktik saham spekulatif terjadi. Namun demikian, penting untuk mencermati pula peran dan pengaruh kebijakan serta penilaian lembaga pemeringkat asing terhadap persepsi risiko dan pergerakan pasar,” jelas Rinatania Anggraeni Fajriani, Executive Director EVIDENT Institute, dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin, (9/2/2026).

Menurut pemaparannya, lebih dari separuh keuntungan operasional Morgan Stanley Capital International (MSCI) berasal dari biaya lisensi, terlepas dari kondisi pasar naik atau turun. Bagi MSCI, volatilitas justru bisa meningkatkan aktivitas rebalancing, mengukuhkan posisi sentral tolok ukurnya, serta membuka peluang penarikan biaya yang lebih tinggi.

Sementara itu, Moody’s beroperasi dengan model issuer-pay, di mana penerbit saham yang membayar Moody’s untuk peringkat, pengawasan berkelanjutan, perubahan prospek, hingga penurunan peringkat. Artinya, pendapatan Moody’s terus mengalir di setiap tahap siklus.

Adapun Goldman Sachs meraup keuntungan saat suatu entitas masuk pasar, selama volatilitas berlangsung, dan saat keluar pasar, melalui aktivitas underwriting, perdagangan, konsultasi, dan penanganan aset bermasalah.

“Dari sini bisa kita lihat ketika hampir US$120 miliar kapitalisasi pasar modal hilang dari Bursa Efek Indonesia sejak 28 Januari 2026. Dari situ ada keuntungan yang didapat ketiga lembaga pemeringkat tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung,” tambah Rina.

Rina menegaskan bahwa fluktuasi pasar modal tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang tetap relatif stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tercatat sekitar 5,1% pada 2025, selaras dengan proyeksi IMF dan Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan mendekati 5% hingga 2026.

“Inflasi yang terjadi juga masih dalam target dan neraca eksternal yang bisa dikelola meski ada volatilitas global. Perkiraan independen ini menegaskan bahwa kondisi ekonomi riil tidak bergantung secara mekanis pada transaksi korporasi,” tuturnya.

Rina mengingatkan bahwa pasca Krisis Keuangan Asia 1997–1998, ketergantungan pasar modal pada lembaga pemeringkat justru menciptakan peluang keuntungan dari volatilitas yang terjadi.

Pada krisis keuangan global 2008, perusahaan indeks pernah memberi peringkat tertinggi pada sekuritas yang kemudian runtuh. Perusahaan-perusahaan pemeringkat itu membayar denda, namun setelahnya kembali mencetak rekor pendapatan tertinggi.

Baca Juga: OJK Imbau Investor Tetap Tenang, Yakinkan Pasar Modal Masih Prospektif

“Bank investasi meraup untung saat indeks naik, saat penurunan, dan lagi saat pemulihan. Dengan kondisi akuntabilitas terbatas, artinya setiap kali ada masalah maka pasar bisa diguncang dan ada kemungkinan menciptakan volatilitas yang artinya ada keuntungan,” tuturnya.

Bagi Indonesia, lanjutnya, dampaknya berupa tekanan pada mata uang, biaya pinjaman yang lebih tinggi, dan ruang fiskal yang menyusut. Artinya, bukan karena negara bangkrut, melainkan karena pengaruh indeks.

Indonesia dapat belajar dari Amerika Serikat yang menyelesaikan krisis akibat Enron dan WorldCom, atau saat bank-bank Eropa direkapitalisasi dan direformasi, sehingga modal tidak lenyap berkat adanya jaring pengaman institusional.

“Nah pasar modal di negara berkembang, seperti Indonesia jarang memiliki jaring pengaman temporal semacam itu. Masuknya Danantara ke BEI tidak lepas dari upaya mendukung transformasi pasar modal nasional serta penguatan tata kelola bursa,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: