Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BTN Bakal Negosiasi Ulang dengan Moody’s Usai Rating Kredit Terpangkas

BTN Bakal Negosiasi Ulang dengan Moody’s Usai Rating Kredit Terpangkas Kredit Foto: WE
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) buka suara terkait pemangkasan peringkat kredit yang dilakukan lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service terhadap lima bank besar di Indonesia. Pemangkasan tersebut menyusul penetapan peringkat sovereign Republik Indonesia di level Baa2 dengan outlook negatif pada 5 Februari 2026.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, perseroan akan melakukan pertemuan dengan Moody’s untuk membahas secara rinci profil dan prospek kredit BTN dalam jangka panjang. Langkah ini dilakukan agar peringkat kredit perseroan dapat ditinjau ulang.

“Jadi kita biasanya ngobrol very detail dengan mereka. Mereka itu kan meneropong in the next lima tahun atau 10 tahun. Ini banknya seperti apa. Nah, sehingga mereka akan me-rating dengan metode yang mereka lakukan,” kata Nixon di Menara BTN, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Baca Juga: Lima Bank Besar RI Terimbas Outlook Negatif Moody’s

Nixon menjelaskan, pemangkasan peringkat kredit berpotensi berdampak pada aktivitas pinjaman luar negeri serta instrumen investasi yang diterbitkan korporasi, termasuk obligasi atau surat utang yang dipasarkan secara internasional.

Menurut Nixon, peringkat kredit menjadi kebutuhan penting dalam transaksi dengan pihak asing.

“Kalau asing itu biasanya karena kita punya pinjaman atau instrumen yang kita keluarkan di luar negeri, yang kita jual di luar negeri, atau kita beli di luar negeri. Nah, ini memerlukan rating,” tuturnya.

Lebih lanjut, Nixon menyebut peringkat kredit yang lebih rendah akan memengaruhi daya tawar obligasi yang diterbitkan oleh korporasi. Hal ini karena peringkat kredit perusahaan umumnya tidak dapat melampaui peringkat kredit negara.

“Jadi kalau negara dulunya kira-kira Baa2 menjadi Ba2 atau dulunya BBB menjadi BB misalnya, maka ya pasti corporate rating juga sama. Nah, terus dampaknya apa? Ya kalau kita menerbitkan surat utang, maka tawar-menawarnya menjadi lebih mahal,” terangnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: